Tohirin, Lc.M.Ag

Lahir di Jakarta tahun 1972. Selepas nyantri di Pontren Ash-Shidiqiyah Jakarta, berhasil menyelesaikan S-1 di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Mesir tahun 1996 dan S-2 dari IAIN Syarif Hidayatullah tahun 2001. Sementara ini sedang menyelesaikan disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor di bidang pemikiran Islam di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Pada akhir tahun 2012, mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di Maroko dalam program Academic Recharghing for Islamic Higher Education yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.

Aktifitas sehari-hari Ustadz Tohirin saat ini adalah mengajar di beberapa lembaga pendidikan tinggi, antara lain di MA Manbaul Ulum sejak tahun 1996, STAI-NU Jakarta sejak 2004, STIT Islamic sejak 2007, Akbid Bina Husada sejak 2008 dan Ma’had Ali Saiudusidiqiyah sejak tahun 2008 s.d. sekarang.

Di samping kegiatan mengajar pada lembaga pendidikan menengah dan tinggi, banyak kegiatan sosial keagamaan yang dilakukan, antara lain:  Halaqah Mufassir (Dikti Depag) tahun 2010, Halaqah Muhaddisin (Dikti Depag, 2008 & 2009), International Seminar and Field Visit on Madrasah In Indonesia (UNESCO, 2009), Pesantren Ramadhan Mahasiswa (2009), Workshop Sertifikasi Guru dan Akreditasi Madrasah (Moderator, 2009), Penulis Soal Ujian Nasional untuk materi agama (Puspendik, 2008-sekarang), Sosialisasi Pengembangan Kurikulum MAK (2001), Semiloka Nasional BHP (2007), Pendidikan dan Pelatihan Kepsek MTs/M.A (1998), Pelatihan Ekonomi Islam (2003), Academic Recharghing for Islamic Higher Education/ARFI (Dikti Depag, 2012).

Di bidang penulisan karya ilmiah, telah banyak tulisan atau terjemahan yang telah dihasilkan, antara lain:  Ilmu Jiwa dan Al Quran(Azzam 2006), Berkunjung ke Surga dan Neraka (Azam 2006), Intelejen di Masa Rasulullah (Azzam, 2005), Mutiara Ranjang Pengantin (Najla, 2005), Wanita Takut Kepada Allah (Najla, 2007), Affair Permaisuri dan Para Raja (Najla, 2005), Do’a Orang Yang Teraniaya (Cendikia, 2005), Syarah Bulughal Maram (Azzam, 2006-2007), Shahih Ibnu Huzaimah (Azzam, 2007), Di Bawah Asuhan Nabi (Cendekia, 2003), Al-Muhalla (Azzam, 2007), Ketika Rasulullah SAW Marah (Furqan, 2008), Team Penyusun buku Ke-NU-an Untuk MTs/SMP dan Aliyah/SMA (LP. Maarif, 2009), dan Basahi Lidahmu Dengan Dzikir (Mirqat, 2008)

Do'a Nabi Daud as.

Berdoa yang baik adalah berdoa dengan doa yang ma’tsur atau doa yang pernah diucapkan oleh para nabi sebagai pembawa risalah. Di antara dua puluh lima nabi yang berpredikat sebagai nabi dan rasul adalah nabi Daud AS. Imam Abu Laits di dalam karyanya Tanbih al Ghafilin menuliskan doa yang pernah dikumandangkan oleh Nabi Daud AS, yaitu kebiasaan beliau yang senantiasa meminta empat hal dan memohon pertolongan dari empat hal

Munggahan Dan Rukyat Hilal Di Bulan Ramadhan

Mengapa saya katakan bahwa munggahan merupakan tradisi? Karena memang munggahan tidak bersumber dari al-Quran dan al-hadits, melainkan dari tradisi sebagian masyarakat muslim Indonesia. Bagaimana Islam menyikapi tradisi ini? Di dalam Ushul Fiqh terdapat sumber hukum “urf” atau tardisi. Urf atau tradisi dapat dijadikan hukum selama ia tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Di dalam tradisi munggahan tidak ada sesuatu yang haram kemudian dihalalkan dan tidak ada sesuatu yang halal lalu diharamkan. Dengan demikian munggahan sesungguhnya “tidak dilarang” apalagi isinya merupakan ajaran-ajaran agama yang sangat dianjurkan seperti silaturahmi, berziarah kubur dan berbuat baik kepada orang tua. Dengan demikian munggahan masuk ke dalam katagori “urf shahih” dan barangkali ia hanya menjadi tradisi lokal muslim Indonesia.

Sya'banku, Sya'banmu, Sya'ban Kita

Ruwahan adalah tradisi slametan atau sedekahan yang dilaksanakan di rumah-rumah menjelang bulan Ramadhan.Biasanya di dalam acara ini dilakukan dengan membaca surat Yasin dan membaca tahlil. Slametan ini biasanya dilakukan dalam rangka mendoakan kerabat yang telah meninggal dunia. Di sini tuan rumah atau shahibul bait menyediakan makanan ala kadarnya dengan niat sedekah.

Modernisasi, Sekulerisme Dan Atribut Keagamaan

modern

Modern dalam bahasa Arab berarti tajdid atau pembaharuan. Oleh karena itu modernisasi berarti memodernkan atau memperbaharukan. Dengan kata lain modernisasi berarti upaya untuk memodernkan atau memperbaharukan apa saja yang melekat pada kehidupan kita, termasuk didalamnya memperbarukan tradisi, institusi, keyakinan, kebiasaan dan apa saja yang selanjutnya disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu ketika ada seseorang bergurau kepada kita “gak modern luh ah”, maka itu berarti ada sesuatu -entah itu kebiasaan atau apa yang kita pakai- yang tidak terbaharukan dalam kehidupan kita dan kita dituntut secara sosial untuk memperbaharuinya, terlepas dari suka atau tidak.

Tahun Baru = Memperbarui Taat Kepada Allah SWT

Tahun baru adalah suatu perayaan di mana suatu budaya masyarakat di dalam suatu negara merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mempunyai kalender tahunan semuanya mempunyai perayaan tahun baru. Orang-orang Indonesia - baik muslim ataupun non muslim - dan negara-negara yang menggunakan kalender masehi merayakan tahun baru pada tanggal 1 Januari karena Indonesia mengadopsi kalender Gregorian, sama seperti mayoritas negara-negara di dunia.

Seandainya Sifat Wara’ Dimiliki Pejabat Kita

Di dalam literatur tasawuf sifat wara’ merupakan salah satu maqam (baca: tangga ruhani) yang harus dilalui oleh seorang sufi. Sehingga sufi yang baik adalah sufi yang dapat melewati tangga ini. Seseorang yang telah mampu melewati tangga ruhani ini, maka ia akan dianugerahkan sifat “khauf”(baca:takut) terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt.

Ilmu Bermanfaat, Makhluk Apakah Itu?

ilmu bermanfaat

Setiap pelajar atau santri tentunya ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barakah. Dahulu dan mungkin masih sampai sekarang penulis senantiasa ingat kepada apa yang dikemukakan oleh bapak kyai dan para asatidz kepada para santri suatu ungkapan: “Apabila kalian ingin memiliki ilmu yang bermanfaat, maka kalian harus rajin belajar dan jangan malas”. Dahulu penulis bertanya-tanya apa sesungguhnya yang di maksud dengan ilmu yang bermanfaat itu? Mengapa seorang pelajar atau santri harus memperoleh ilmu yang bermanfaat? Lalu apa indikator yang menunjukkan seseorang memiliki ilmu yang bermanfaat? Barangkali ini adalah bahasan yang akan penulis ulas dalam kesempatan kali ini

Shalat Yang Bernilai Di Sisi Allah SWT

kaligrafi shalat

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Shalat Berjamaah Pendidikan Sosial Yang Agak Terabaikan

Shalat berjamaah merupakan ciri khas umat nabi Muhammad dan orang yang pertama kali melaksanakannya adalah nabi Muhammad Saw sendiri. Dahulu para salafus shaleh akan berduka cita selama tiga hari tiga malam apabila mereka tidak menjumpai takbiratul ihram dari imam di dalam shalat berjamaah dan mereka akan berduka cita sampai tujuh hari tujuh malam apabila mereka tidak melaksanakan shalat berjamaah.Terdapat pribahasa yang cukup masyhur di kalangan mereka :”Orang yang terkena musibah bukanlah orang yang kehilangan kekasihnya, tetapi orang yang terkena musibah adalah orang yang tidak mendapatkan pahala(jamaah)