Seputar Bahasa Arab

Penulisan Kalimat Insya Allah

Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 70:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

“Mereka (Bani Israil) berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

Hal yang paling menyedihkan banyak pengajar Islam publik kita, di Mushalla dan TV-TV, yang awam dengan teori-teori Nahwu. Untuk berdakwah memang tidak diwajibkan untuk menguasai Nahwu, namun dalam dakwah diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Menyampaikan kebenaran dengan benar adalah jika sang penyampai mengerti alatnya. Perlu diingat di sini bahwa tidak semua orang yang bisa membaca aksara Arab seperti membaca al-Qur’an menguasai ilmu ini. Mampu dan tidaknya penguasaan ilmu Nahwu ini bisa dilihat dari bagaimana dia atau mereka mampu membaca dan memaknai kitab-kitab yang dalam bahasa keseharian kaum santri disebut kitab kuning

ABDI

Istilah ABDI bisa dirunut asalnya dalam bahasa Arab (‘abdun, al-‘abdu, bisa berubah vokal akhir menjadi ‘abdan/al-‘abda atau ‘abdin/al-‘abdi yang juga bermakna hamba atau orang. Istilah ini banyak dipakai oleh umat Islam untuk nama atau julukan seseorang, apalagi sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits bahwa di antara sebaik-baik nama adalah Abdullah yang bermakna Hamba Allah. Mengenai perubahan vokal akhir, secara default atau asalnya adalah ‘Abdu. Ia berubah menjadi ‘Abdi karena ada kalimat/kata lain sebelumnya, baik disebutkan atau disembunyikan). Kenapa diucapkan ‘abdillah, mungkin karena awalnya ada kata “min” yang berarti sebagian/segolongan, sehingga nama ‘abdillah bisa diartikan termasuk hamba Allah. Atau mungkin karena pertimbahan estetika (keindahan) saja…

Penulis: 
Tags: 

Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat

DALAM pengantarnya untuk buku Our Philosophy (terjemahan dari Falsafatuna) karya Baqir Shadr yang terbit pada 1987, Seyyed Hussein Nashr menyatakan sesuatu yang penting tentang bahasa. Ia menulis bahwa jika kita melihat kelemahan-kelemahan dalam menginterpretasi dan memahami sumber-sumber dari Barat, hal itu karena lemah dan tak sempurnanya terjemahan-terjemahan teks filsafat Barat ke bahasa Arab dan Persia yang diakses oleh Baqir Shadr.

Abu Al Aswad (Pengarang Ilmu Nahwu)

Nama aslinya yang paling terkenal adalah Zhalim bin Amr, beliau sering dikenal atau dipanggil dengan Abu Al Aswad Ad Du’ali rahimahullah, ada pula yang mengatakan Ad Dili, Al Allamah, Al Fadhil, Qadhi Bashrah. Beliau rahimahullah dilahirkan pada masa kenabian.

GETAR (Gerakan Tarjamah) Al-Qur’an Melalui Metode Tamyiz

Bagi Umat Islam Indonesia dan Umat Islam di belahan dunia lain yang tidak berbahasa ibu bahasa arab, bisa jadi memahami bahasa arab sebagai langkah awal memahami Al-Qur’an adalah kendala berat yang harus dihadapi. Di sinilah bermula tantangan itu. Bahasa arab sebagai bahasa tutur Al-Qur’an seharusnya menjadi bahasa yang juga tidak sulit dipahami, karena secara repetitif Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu mudah untuk dijadikan pelajaran dan peringatan bagi manusia (Q.S.Al-Qamar, 54:17, 22, 32, 40). Karenanya, sejak masa awal Islam khazanah kajian seputar pengkajian bahasa arab menjadi salah satu mainstream yang banyak diminati. Kitab-kitab turats yang berhubungan dengan ilmu kebahasaan (bahasa arab) banyak bermunculan. Namun, dalam perkembangannya kajian bahasa arab yang semula ditujukan untuk memepermudah pemahaman Al-Qur’an di kalangan umat Islam menjadi ekslusif sebagai sebuah kajian bahasa ansich. Sehingga alih-alih semakin banyak umat islam yang memahami kandungan Al-Qur’an, malah banyak yang disibukkan dengan perdebatan yang mengasyikan seputar ilmu bahasanya.

Pentingnya Pembelajaran Bahasa Arab pada Usia Dini

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengajarkan bahasa Arab pada anak usia dini adalah dengan membawa alat peraga. Alat peraga ini dimaksudkan untuk lebih menguatkan anak dalam mengingat kosa-kata yang telah diberikan. Jadi, ketika memberikan kosa-kata, anak dapat melihat langsung maksud ataupun arti dari kosa kata tersebut, walaupun guru tidak menulisnya di papan tulis. Anak dapat melihat langsung secara empiris. Jika ditinjau dari segi kognitif, metode seperti ini lebih efektif dari pada menulis arti kosa kata di papan tulis.

Penulis: 

Bahasa Arab di ambang Kepunahan

bahasa arab

Jika al-Quran tidak berbahasa Arab dan Nabi Muhammad saw bukan orang Arab, barangkali kini bahasa Arab sudah punah. Keindahan bahasa Al-Quran yang merupakan kitab suci umat Islam jelas menjadi kekuatan paling urgen dalam menjaga eksistensi bahasa Arab. Tanpa janji Allah yang akan terus melestarikan keutuhan al-Quran termasuk juga bahasanya, jelas hari ini bahasa Arab hanya tinggal kenangan belaka.

KBM Bahasa Arab di MAN Gondang Legi

Pembelajaran Bahasa Arab sebenarnya sangat mudah dan menyenangkan. Tinggal bagaimana cara kita menyajikan/mempelajarinya. Seperti halnya kegiatan belajar mengajar Bahasa Arab yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah Negeri pertama di kabupaten Malang ini. MAN Gondanglegi menggunakan metode ini karena mendapatkan tanggapan positif dari para siswa, khususnya kelas XII program IPA. Memang, sangat banyak model/metode pembelajaran yang lain, tinggal bagaimana saja yang diinginkan oleh siswa.

Filsafat Nahwu

jamhuri,multazam

Di sini penulis tidak hendak mengemukakan kaidah ilmu nahwu dengan segala pembagiannya. Yang akan penulis kemukakan adalah, bahwa di dalam kitab yang melulu membahas tata bahasa Arab, ternyata kalau dikaji lebih dalam lagi, ia memiliki filsafat-filsafat hidup dan nasehat yang sangat berharga bagi setiap generasi terutama bagi kita sebagai ummat Islam. Filsafat hidup yang termaktub dalam kitab itu sendiri merupakan “hukum” atas suatu kalam atau kalimat dalam ilmu nahwu