Profil Ahsanul Kalam

Bahasa Arab merupakan bagian dari Islam, yaitu sebagai alat untuk memahami ilmu-ilmu utama dalam agama Islam. Oleh karenanya, barangsiapa ingin memahami secara mendalam ajaran Islam, maka mempelajari dan menguasai bahasa Arab menjadi sesuatu yang mutlak harus dilakukan. Adalah mustahil bagi seorang muslim mampu memahami isi dan kandungan Al-Qur'an dan Al-Hadits dengan baik tanpa menguasai bahasa Arab.

Para ulama telah bersepakat tentang wajibnya umat mempelajari bahasa Arab. Terlebih lagi dengan adanya strategi dari musuh-musuh Islam menjauhkan Islam dengan menjauhkan pengikutnya dari kecintaan terhadap bahasa Arab. Strategi ini sungguh brillian, karena bahasa Arab mewakili budaya dan ideologi Islam. Jika pengikut Islam sudah tidak tertarik mempelajari bahasanya sendiri, maka lambat laun ajaran Islam tidak lagi diambil dari sumbernya yang pertama, karena hampir semuanya berbahasa Arab.

Kondisi demikian semoga tidak terjadi atau terus terjadi. Sehingga apa yang disinyalir oleh Dr. Husanain dari Universitas Madinah dalam bukunya "Orientalisme" tentang salah satu strategi kaum orientalis menghancurkan Islam dengan menjauhkan umat Islam dari kecintaannya terhadap bahasa Arab, tidak berjalan dengan baik. Memang ada satu kenyataan yang membuat prihatin, yaitu tidak sedikit umat yang nampak lebih senang dan bangga untuk belajar bahasa asing lainnya daripada bahasa Arab. Tempat kursus bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya tumbuh di mana-mana, tetapi tidak sebaliknya. Kita mudah menyebutkan tempat-tempat kursus bahasa Inggris, tetapi akan kesulitan jika ditanya dimana bisa belajar bahasa Arab selain di pesantren dan madrasah.

Kondisi ini menuntut para tokoh umat Islam di semua level untuk bertindak sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Kita perlu ikut berperan serta menghidupkan semangat umat mempelajari bahasa Arab dan menganggapnya bukan sebagai bahasa asing. Upaya ini penting dilakukan untuk mengingatkan dan menyadarkan umat bahwa mempelajari bahasa Arab berarti mempelajari bahasa Al-Qur'an, bahasa hadits, dan bahasa ilmu-ilmu Islam yang terdapat di kitab-kitab karya para 'alim ulama. Kita ketahui, bahwa do'a sehari-hari yang dibaca umat Islam termasuk dalam ibadah sholat adalah menggunakan bahasa Arab. Bahkan, sebagaimana layaknya seorang muslim, hari-harinya diawali dan diakhiri dengan menggunakan bahasa Arab. Sejak bangun dari tidur, kita langsung berkata-kata dalam bahasa Arab sebelum bahasa yang lain, berupa do'a bangun tidur, do'a masuk dan keluar kamar mandi, shalat, dzikir, tadarus al-Qur'an. Malam hari sebelum tidur, kita berdo'a dan berdzikir dengan menggunakan bahasa Arab. Apakah hal tersebut berlaku dengan bahasa asing lainnya? Jika demikian, nampak tidak layak jika ucapan yang diucapkan setiap hari tersebut tidak diketahui maknanya?

Permasalahan di atas merupakan salah satu pendorong didirikannya Yayasan Ahsanul Kalam. Semoga yayasan ini bisa ikut berperan serta di dalam menumbuhkembangkan minat umat Islam mempelajari Al-Qur'an secara utuh, termasuk mempelajari bahasa Al-Qur'an itu sendiri (bahasa Arab).

Visi Ahsanul Kalam adalah menjadi lembaga terdepan yang mendorong terwujudnya umat Islam yang memahami al-Qur'an secara utuh, baik dari cara membacanya dan menterjemahkannya serta mengetahui kandungan maknanya, sehingga bisa mengamalkannya sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Berdasarkan visi tersebut, Ahsanul Kalam mengemban misi melaksanakan pendidikan dan dakwah Islam berbasis Al-Qur'an, mengembangkan metode pembelajaran bahasa Al-Qur'an yang sesuai dengan kebutuhan umat, mendorong dan memfasilitasi generasi muda muslim untuk mempelajari dan mengkaji al-Qur'an secara utuh dan mendalam.