Sya'banku, Sya'banmu, Sya'ban Kita

Sering kita mendengar para ustad, kyai dan alim ulama berdoa: اللهم بارك لنا فى رجب و شعبان وبلغنا رمضان “Ya Allah berilah keberkahan kepada kami di bulan rajab, keberkahan di bulan Sya’ban dan sampaikanlah  kami kepada  bulan Ramadhan” .

Berkah-sebagaimana tersurat di dalam doa di atas- berarti tambahan kebaikan.Jadi doa di atas merupakan isyarat agar kita mendapatkan keberkahan di bulan Rajab dan di bulan Sya’ban.Agar kita  benar-benar mendapatkan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban, maka tentunya kita harus melakukan tambahan kebaikan yang tambahan tersebut tidak kita lakukan di bulan-bulan lain.

Apabila kita perhatikan mayoritas masyarakat muslim Indonesia, maka nampak bulan Rajab dan Sya’ban ini menjadi bulan yang spesial. Mengapa demikian, karena di bulan-bulan ini terdapat tradisi-tradisi baik yang dilaksanakan yang tidak dilaksanakan di bulan-bulan lain.

Di bulan Rajab masyarakat muslim Indonesia banyak yang melaksanakan puasa.Ada di antara mereka yang melaksanakan puasa di awal bulan Rajab dengan berpuasa tiga hari atau tujuh hari.Ada juga yang melaksanakan puasa di akhir bulan mulai tanggal 27 Rajab sampai akhir bulan dan ada juga yang melaksanakan puasa di awal dan di akhir bulan Rajab.

Bulan Rajab ini menjadi bulan mulia -sebagaimana dikatakan oleh Dr.Yusuf al Qardhawi- karena bulan Rajab merupakan salah satu “asyhur al hurum”  (baca:bulan-bulan yang dihormati yang tidak boleh berperang di dalamnya).

Selain itu terdapat sebuah hadits Hasan yang menyatakan bahwa rasulullah SAW banyak melaksanakan puasa di bulan Sya’ban.Setelah nabi ditanya tentang hal tersebut, maka nabi menjawab karena bulan Sya’ban merupakan bulan yang dilupakan oleh orang yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan.

Dari redaksi hadits di atas, maka dapat dipahami bahwa bulan Rajab merupakan bulan yang mulia.

Sementara di bulan Sya’ban setidaknya terdapat tiga tradisi.Pertama tradisi Ruwahan,  kedua tradisi Yasinan dan ketiga tradisi shalat.

Ruwahan adalah tradisi slametan atau sedekahan yang dilaksanakan di rumah-rumah menjelang bulan Ramadhan.Biasanya di dalam acara ini dilakukan dengan membaca surat Yasin dan membaca tahlil. Slametan ini biasanya dilakukan dalam rangka mendoakan kerabat yang telah meninggal dunia. Di sini tuan rumah atau shahibul bait menyediakan makanan ala kadarnya dengan niat sedekah.

Sementara tradisi yasinan dilakukan tepat di malam tanggal 15 Sya’ban.Biasanya di malam ini mereka berkumpul di mesjid-mesjid atau di mushalla- mushalla lalu membaca surat Yasin tiga kali, pertama dengan niat dikokohkan iman dan Islamnya, kedua dengan niat panjang umur dan niat yang ketiga adalah niat murah rezeki.

Adapun tradisi shalat biasanya dilakukan di malam tanggal 15 Sya’ban juga. Kalangan tarikat banyak yang melakukan shalat di malam ini. Di antara mereka ada yang mengerjakan seratus rakaat sampai seribu rakaat, baik dilakukan sendiri atau secara berjamaah

Penulis melihat bahwa tradisi-tradisi ini merupakan tradisi baik walaupun tidak ada ayat atau hadits shahih yang secara tegas menetapkan keabsahan tradisi-tradisi di atas.

Apabila kita perhatikan satu-persatu tradisi tersebut, maka sungguh ia menyimpan kebajikan luar biasa.

Tradisi berpuasa di bulan Rajab misalnya, meskipun tidak ada hadits yang shahih yang secara tegas menyatakan keabsahan puasa tersebut, tetapi sebagai seorang muslim apakah salah apabila seseorang melaksanakan puasa sunnah ini.Sesungguhnya tidak ada nash hadits yang secara tegas melarang seseorang untuk berpuasa sunnah kecuali mengkhususkan puasa sunnah di hari Jumat. Oleh karena itu menurut hemat penulis berpuasa di awal atau di akhir bulan Rajab sah secara hukum berdasarkan “kaidah umum kebolehan melaksanakan puasa sunnah”.

Tradisi Ruwahan menurut hemat penulis adalah tradisi yang baik. Sebab hal tersebut dilakukan dalam rangka mendoakan kerabat yang telah meninggal dunia di mana mendoakan orang yang telah meninggal dunia dianjurkan oleh al-Quran. Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr 59:10)

Apabila kita perhatikan ayat di atas, maka jelas sekali terlihat bahwa kewajiban orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah mendoakan dan sesungguhnya substansi Ruwahan adalah mendoakan kerabat yang telah meninggal dunia terlebih dahulu.

Selain itu tradisi Ruwahan ini mengandung nilai-nilai amal shaleh seperti silaturahmi kepada tetangga dan unsur shadaqah yang sangat dianjurkan di dalam Islam.  

Sementara tentang berkumpul di mesjid atau mushalla dan membaca surat Yasin tiga kali di malam 15 Sya’ban juga merupakan tradisi yang baik.Setidaknya membaca al-Quran apalagi dilaksanakan secara berjamaah tentu akan membawa manfaat tersendiri. Pertama, membaca al-Quran secara berjamaah tentunya memiliki pahala yang besar daripada membaca al-Quran sendirian -sebagaimana shalat berjamaah- karena unsur syiarnya lebih besar. Kedua, mengajak orang untuk membaca al Quran dengan ber’itikaf di masjid tentu memiliki pahala tersendiri di sisi Allah SWT. Ketiga unsur kebersamaan tentunya akan menambah rasa persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah.

Mengenai pelaksanaan shalat di malam nishfu Sya’ban, memang terdapat satu hadits yang menyatakan: ”Apabila malam nishfu Sya’ban tiba maka shalatlah di malam itu, maka sesungguhnya Allah SWT turun ketika tenggelamnya matahari menuju dunia dan ia berfirman adakah (di malam ini) orang yang memohon ampun, maka aku akan mengampuninya.Adakah orang yang meminta rezeki, maka aku akan memberikan rezeki kepadanya dan adakah orang yang terkena bala, pasti aku akan menyembuhkannya kecuali hal ini (baca:hal-hal khusus) sampai tenggelam matahari”(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini menurut para muhaditsin memang dhaif bahkan ada yang mengatakan bahwa ia termasuk hadits maudhu’. Hanya saja penulis ingin sedikit mempertanyakan,  apakah kita tidak boleh melaksanakan qiyamul lail di malam ini. Oleh karena itu menurut hemat penulis agar tidak menjadi problem, maka kita tidak usah menamakan shalat di malam tanggal 15 Sya’ban itu sebagai shalat sunnah Sya’ban karena hal tersebut memang tidak ada dasarnya hukumnya. Kemudian apa yang dilaksanakan di malam itu?J awabanya ya tentu shalat-shalat sunnah yang sudah ada ketetapan dalilnya seperti shalat tahajud, shalat sunnah mutlak dan shalat sunnah tasbih. Sehingga di sini kita tetap menjaga toleransi di antara kita dan tidak saling mengunggulkan satu paham dengan yang lainnya

Oleh karena itu menurut hemat penulis tradisi-tradisi Islami di atas tetap harus dipertahankan sebagai warisan budaya Islam Indonesia yang positif yang barangkali tidak dijumpai di negara lain dan bukan berarti membuat syariat baru yang dilarang oleh agama.

Sekarang kita sudah berada di bulan Sya’ban berarti tinggal satu bulan lagi kita akan sampai di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan harus disambut dengan suka cita dimana menyambutnya harus dengan cara yang agung pula.

Ramadhan bukan tamu biasa tetapi ia tamu agung. Kemudian pertanyaannya, “Apa yang telah kita lakukan untuk menyambut “tamu agung” ini. Sudahkah kita mulai sering berpuasa di bulan ini sebagai persiapan puasa di bulan Ramadhan kelak sebagaimana di lakukan oleh rasulullah SAW. Sudahkan kita melaksanakan ruwahan dan bersedekah kepada fakir miskin. Sudahkah kita mulai belajar i’tikaf untuk persiapan i’tikaf di bulan Ramadhan?”. Sebagai penulis saya perlu mengingatkan ini karena bulan Sya’ban ini merupakan Sya’banku, Sya’banmu dan Sya’ban kita.

Kategori Artikel: