Strategi Jahat Zionis Terhadap Islam

Penanggalan di dalam Islam disebut dengan penanggalan hijriah. Kata hijriah yang dijadikan label penanggalan Islam diambil dari kata hijrah yang merupakan asal kata dari hajara-yahjuru yang berarti berpindah. Dalam kamus kontemporer kata hijrah berarti berpindah menuju satu negeri. Sehingga para pakar menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hijrah adalah perpindahan secara fisik dari satu tempat menuju tempat yang lain yang diasumsikan lebih baik. Hal seperti ini pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW saat melakukan hijrah dari kota Mekah yang sarat dengan pengekangan agama menuju kota Madinah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan.

Momentum hijrah ini walaupun tidak dideklarasikan oleh Rasulullah SAW, tetapi Umar r.a. melihat bahwa momentum hijrah ini sangat perlu untuk didengungkan agar kondisi umat Islam senantiasa selalu lebih baik. Karenanya momentum peringatan tahun baru hijriah di dalam Islam sesungguhnya memiliki arti yang sangat bersahaja. Melihat demikian strategisnya arti yang terkandung dalam tahun  hijriah ini, maka upaya untuk menghapusnya sudah dilakukan sejak dini oleh kelompok sekuleris. Hal ini terus didengungkan agar semangat Islam redup dari tubuh umat Islam.

Dahulu Mustafa Kemal Attaturk, pemimpin sekulerisme Turki, telah menghapus seluruh bentuk syiar yang berbau Islam mulai dari bentuk pemerintahan khilafah Islamiyah, busana muslim, tradisi muslim sampai kepada upaya penghapusan kumandang adzan yang berbahasa Arab  dan digantikan dengan bahasa Turki. Bukan hanya itu konsep Negara yang berdasarkan kepada nasiolisme dan demokrasi dianggap sebagai konsep Negara yang paling ideal melebihi konsep yang dicanangkan oleh khulafaurrasyidin.

Di saat semangat hijrah mulai redup dalam tubuh umat Islam, setelah sebelumnya mengumumkan keinginan untuk menyerang Iran, Israel pada awal tahun 1434 H benar-benar kembali menyerang Palestina secara brutal. Dengan serangan ini, sebenarnya secara tidak langsung Israel ingin menghadiahkan kepada umat Islam berupa mayat-mayat korban kebengisan Israel kepada dunia. Terlebih lagi yang akan dipersembahkan adalah anak-anak yang tidak berdosa. Di sini kita patut bertanya apakah yang sesungguhnya diinginkan oleh orang-orang Yahudi dan Israil pada umat Islam saat ini?

Dalam sejarah sesungguhnya istilah Yahudi diambil saat Nabi Ya'qub a.s akan meninggal dunia. Saat akan meninggal dunia tersebut Nabi Yaqub a.s. berpesan kepada anak-anaknya yang saat itu berjumlah sepuluh orang agar tunduk dan patuh kepada Yahudza -menggunakan dzal yang bertitik- anak keempat dari nabi Ya’qub a.s. Karena bangsa Arab kesulitan mengucapkan kata Yahudza yang berdzal titik, maka mereka menggantinya dengan dal yang tidak bertitik. Namun ternyata setelah mendengar wasiat dari ayahnya, kesepuluh anak dari Nabi Ya'qub tidak menuruti nasehat ayahnya tersebut, bahkan ada di antara mereka yang membangkang sehingga keluarga Ya’qub a.s. terpecah menjadi dua kelompok atau dua kubu. Kelompok pertama yang merasa pengikut Yahudza menyebut diri mereka sebagai kaum Yahudi dan kelompok kedua adalah kelompok yang menghubungkan diri mereka dengan nama bangsanya, yaitu Israil. Jadi kaum Yahudi dan bangsa Israil sesungguhnya sama-sama memiliki nenek moyang yang seibu dan sebapak, maka berbicara tentang Israil sesungguhnya bicara tentang agama Yahudi.

Menurut Dr. Yusuf al Qardhawi, orang-orang Yahudi senantiasa menguatkan semangat keberagamaan mereka. Mereka mencoba membangunkan umat mereka dari tidur lelap, mengumpulkan kaum Yahudi yang terpisah di mana-mana untuk menetap di Palestina dan menghidupkan kembali bahasa Ibrani yang sejatinya hampir punah. 

Sepanjang sejarah, mulai dari kemunculan Islam dan di masa kenabian orang-orang Yahudi sudah menjadi musuh Islam. Hal ini dapat dilihat dalam perang khandak dan kebengisan mereka sudah digambarkan oleh Allah SWT dalam surat Al Ahzaab ayat 10:

“Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah SWT dengan bermacam-macam purbasangka”

Genjatan senjata yang dilakukan oleh umat Islam pasca perang Badar juga dilanggar oleh orang Yahudi sehingga terjadilah perang uhud dan masih banyak peristiwa-peristiwa lain yang menyusahkan umat Islam.

Bukan hanya dari sisi politik, dari sisi intelektual mereka sudah menghembuskan racun ke dalam khazanah intelektual umat Islam. Di dalam di siplin ilmu hadits mereka menyusupkan hadits-hadits maudhu’ atau hadits-hadits palsu. Di dalam ilmu tafsir mereka meyusupkan israiliyat dan berita bohong lainnya. Di dalam sejarah Islam mereka melakukan pemalsuan data-data dan fakta-fakta di lapangan. Di dalam ilmu tasawuf mereka meyusupkan gerakan kebatinan serta menyusupkan filsafat yang sesat.

Orang-orang Israel atau bangsa Yahudi ini juga terkenal dengan istilah zionis. Zionisme adalah paham yang memiliki cita-cita kemerdekaan Negara Yahudi. Saat pencanangan cita-cita ini Dr Hezel selaku pimpinan terbesar dalam konfrensi orang-orang Yahudi sedunia yang diwakili oleh 114 perwakilan organisasi dan gerakan Zionisme pada tahun 1897 dalam pidato singkatnya ia berkata: ”Konferensi ini bertujuan meletakkan pondasi dasar bagi negara yang akan dihuni oleh bangsa Yahudi di masa mendatang dengan mendeklarasikan bahwa Zionisme berarti kembali kepada agama Yahudi sebelum kembali kepada sebuah Negara yang sah milik bangsa Yahudi. Oleh karena itu terjadi ikatan yang kuat antara proyek Zionisme sejak awal dengan agama Yahudi.

Dahulu kejahatan orang-orang Yahudi terhadap Islam sudah tidak terhitung, sementara sekarang orang-orang Yahudi selain menampakkan permusuhan secara terang-terang-terangan seperti yang terjadi sekarang pada Palestina, maka terdapat gerakan-gerakan lain yang mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi yang mereka istilahkan dengan proyek Zionisme. Proyek tersebut di antaranya adalah upaya mereka menghapus atau  melenyapkan kekuatan umat Islam -seperti yang mereka ingin lakukan terhadap Iran-, mengadu domba umat Islam -dan sepertinya sudah terjadi di Negara-negara muslim yang ada di Timur Tengah seperti Mesir, Libia dan Irak-, menghapus konsep khilafah islamiah, membangkitkan paham kapitalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Karl Marks serta memecah belah umat Islam dengan paham nasionalismenya.

Musa Dayan -salah seorang pembesar Yahudi- saat berpidato pada peringatan pendudukan kota Yerusalem pada tahun 1967 berkata: ”Sekarang jalan telah terbuka menuju kota Madinah dan Mekah. Kita telah menguasai Yerusalem dan kita akan segera menuju Yatsrib dan Iraq”.

Oleh karena itu kita harus kembali kepada Islam, dan kita senantiasa memiliki harapan karena:

  1. Kita memiliki kebenaran. Kebenaran pasti akan abadi meskipun kebohongan dan kepalsuan menyelimutinya
  2. Kita memiliki Islam sebagai fitrah manusia sejak lahir
  3. Kita memiliki sumber daya manusia yang banyak yang akan mewarnai dunia ini.
  4. Kita memiliki sisi kemanusiaan yang menjadi garda depan agama Islam dalam menyebarkan ajarannya

Kita mendapatkan dukungan dari Allah Swt.

Kategori Artikel: