Shalat Yang Bernilai Di Sisi Allah SWT

kaligrafi shalat

Shalat merupakan tiang agama. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:

الصلاة عماد الدين فمن اقامها فقد اقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين

“Shalat merupakan tiang agama, barangsiapa yang mendirikannya, maka sungguh ia telah mendirikan agama dan barang siapa yang menghancurkannya, maka ia telah menghancurkan agama”

Dalam hadis lain Rasulullah Saw bersabda bahwa perbedaan antara muslim dan non muslim adalah shalat. Barangsiapa yang mengerjakan shalat, maka is seorang muslim. Sementara apabila seseorang mengaku muslim tetapi ia tidak shalat, maka sejatinya ia bukan seorang muslim.

Dari dua hadis di atas nampak bahwa shalat di dalam agama Islam memiliki nilai strategis dan menjadi identitas keagamaan seseorang. Mengapa demikian? Jawabannya selain shalat merupakan salah satu rukun Islam, ia juga merupakan ibadah yang memiliki niat dan gerakan tertentu yang sangat spesial.

Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tentu saja sangat identik dengan ibadah shalat ini. Di perkotaan atau di pedesaan sampai di wilayah pelosok orang-orang bahu-membahu membangun masjid sebagai tempat ibadah shalat. Dari pembangunan yang dilakukan menggunakan dana wakaf sampai kepada meminta sumbangan di jalan-jalan. Jerih payah itu dilakukan tentu saja dalam rangka memberikan kenyamanan dalam melaksanakan shalat, sekaligus kekhusuan. Sebab dengan tempat yang nyaman barangkali shalat yang dilaksanakan akan lebih mantap dan khusu’.

Hanya saja ironinya negara yang mayoritas masyarakatnya ini melaksanakan shalat ternyata belum melaksanakan “shalat sesungguhnya”. Shalat yang dilakukan masih sebatas shalat “lahiriah” saja sehingga kesan yang muncul “shalat jalan, maksiat juga jalan”, shalat jalan, korupsi juga jalan dan shalat jalan,kolusi juga jalan”.

Padahal kita sama-sama mengerti dan mengetahui bahwa shalat dapat mencegah perbuatan yang keji dan munkar sebagaimana di dalam firmanNya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Jika demikian adanya tentu kita juga sepakat yang salah pasti bukan shalatnya tetapi oknum yang melaksanakan shalat. Ibnu Katsir mengemukakan satu hadis saat ia menafsirkan ayat di atas yang menyatakan:

من صلي ولم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر لم تزده الا بعدا

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat dan shalat yang ia laksanakan tersebut tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka shalatnya tidak menambah apa-apa kecuali ia semakin jauh(dari Allah)”

Dalam hadis lain Rasulullah juga menyatakan:

من صلي ولم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر فلا صلاة له

Barangsiapa yang melaksanakan shalat dan shalat yang ia laksanakan tersebut tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka sesungguhnya tidak ada shalat baginya”

Pertanyaannya adalah bagimana shalat yang memiliki nilai di sisi Allah Swt sekaligus dapat mencegah perbuatan keji dan munkar?

Al Habib Abdullah bin ‘Alawi al Haddad di dalam salah satu karyanya menyatakan bahwa shalat memiliki dua dimensi, lahiriah dan bathiniah. Menurutnya shalat tidak akan memiliki nilai di sisi Allah kecuali ia dilaksanakan dengan dua dimensi di atas.

Pertama, dimensi lahiriah.

Dimensi lahiriah seperti orang yang melaksanakan shalat harus mengetahui rukun dan etika lahiriah shalat seperti bagaimana tata cara ruku’, sujud dan membaca bacaan yang baik.

Mengenai tata cara ruku’ dan sujud yang baik pernah diingatkan oleh Rasulullah Saw saat terdapat seorang ‘Arabi melaksanakan shalat kemudian rasulllah Saw mengemukakan kepadanya bahwa sesungguhnya ia belum melaksanakan shalat dan hal itu diulang tiga kali. Mengapa demikian?Karena ternyata orang ‘Arabi tersebut tidak melakukan thuma’ninah (baca:berdiam sebentar) di dalam ruku dan sujudnya.

Sementara mengenai bacaan. dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:

لا صلاة لمن لم يقرا بفاتحة الكتاب

“Tidak sempurna shalat seseorang yang (bacaan) al fatihahnya (tidak baik)”

Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk membaca al Quran secara muratal. Itu artinya ketika kita membaca al Quran, maka hendaknya kita membaca dengan makharijal huruf dan tajwid yang bagus. Kita bisa membedakan antara tsa dengan sa dan kita juga mengetahui bahwa ini di baca ghunnah (baca:berdengung) dan yang itu di baca idzhar (baca:jelas). Hal seperti ini tidak bisa dilakukan dengan yang cara lain kecuali belajar. Belajar tajwid dan makharijal huruf dalam rangka menghantarkan kepada shalat yang bernilai di sisi Allah merupakan keharusan.

Kedua, Dimensi Bathiniyah.

Shalat yang hanya mengedepankan dimensi lahiriah saja menyebabkan shalat yang dilaksanakan kering karena seseorang hanya terpaku pada aspek legal-formalnya saja. Padahal di dalam shalat terdapat aspek informal yang tidak kalah pentingnnya.

Aspek informal itu seperti “merasakan kehadiran Allah”. Komunikasi seorang muslim yang paling intens dengan tuhannya adalah saat ia shalat. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:

اذا قام العبد الى الصلاة اقبل الله عليه بوجهه

“Apabila seorang hamba berdiri melaksanakan shalat, maka Allah Swt menghadapkan (wajahNya) kepada (hambanya)”.

Sayyidina Umar r. a. dicabut tombaknya yang ditancapkan oleh orang Yahudi yang bernama Abu Lu’lu saat ia shalat. Dalam salah satu kisah sufi juga dikemukakan bahwa Muslim bin Yasar pernah melaksanakan shalat di suatu masjid yang berada di tengah pasar yang penuh dengan suara hingar bingar, tetapi ia sama sekali tidak mendengar suara-suara itu. Saat ditanya mengapa mereka tidak merasakan apa-apa?Jawabnya karena saat itu mereka telah benar-benar asyik merasakan kehadiran Allah Swt.

Selain itu seseorang harus “bersemangat” (baca:himmah) dalam melaksanakan shalat. Wujud bersemangat di dalam shalat dapat terlihat dengan hadir di masjid atau di mushala lima sampai sepuluh menit menjelang adzan. Hal seperti ini bertolak belakang dengan apa yang kita saksikan sehari-hari di mana masih banyak dari kita yang melaksanakan shalat menjelang akhir waktu, sehingga dalam perasaannya bahwa shalat itu hanya sebagai kewajiban bukan kebutuhan (na’udzu billah min dzalik).

Hal yang terakhir yang harus diperhatikan dalam dimensi bathin shalat adalah niat yang ikhlas di dalam hati. Hati ini adalah pokok segala sesuatu. Dari hati yang baik, maka akan muncul niat yang baik dan selanjutnya pekerjaan yang baik. Karena Rasulullah Saw mengingatkan kepada kita

الا ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله الا وهي القلب

“Sesungguhnya di dalam tubuh kita terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka jasad kita seluruhnya juga baik dan apabila ia rusak, maka seluruh jasad kita rusak. Ingatlah ia adalah hati.

Ya Allah jadikanlah shalat kami termasuk shalat orang-orang yang khusu’ amien!

Kategori Artikel: