Shalat Berjamaah Pendidikan Sosial Yang Agak Terabaikan

Shalat berjamaah adalah keterikatan yang diperoleh antara shalat imam dan shalat makmum. Agama Islam telah mensyariatkan beberapa pertemuan berkelompok di antara umat Islam untuk melaksanakan ibadah di dalam waktu-waktu tertentu, di antaranya melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam dan shalat jum’at serta shalat dua hari raya, idul fitri dan idul adha dalam posisi berjamaah.

Shalat berjamaah merupakan ciri khas umat nabi Muhammad dan orang yang pertama kali melaksanakannya adalah nabi Muhammad Saw sendiri. Dahulu para salafus shaleh akan berduka cita selama tiga hari tiga malam apabila mereka tidak menjumpai takbiratul ihram dari imam di dalam shalat berjamaah dan mereka akan berduka cita sampai tujuh hari tujuh malam apabila mereka tidak melaksanakan shalat berjamaah. Terdapat pribahasa yang cukup masyhur di kalangan mereka :”Orang yang terkena musibah bukanlah orang yang kehilangan kekasihnya, tetapi orang yang terkena musibah adalah orang yang tidak mendapatkan pahala (jamaah)”[1]

Shalat berjamaah memiliki pahala yang lebih besar dari pada shalat sendirian. Rasulullah Saw bersabda: “(Pahala) Shalat berjamah melebihi shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat” (H.R.Bukhari Muslim)

Di dalam hadits lain nabi bersabda: (Pahala) Shalat berjamah melebihi shalat sendirian dengan dua puluh lima derajat”(H.R.Bukhari-Muslim)

Shalat berjamaah selain mengandung pahala yang besar juga mengandung nilai sosial yang tinggi seperti silaturahmi dan pertemanan serta sebagai tempat konsolidasi yang sangat dianjurkan di dalam Islam. Oleh karena itu rasulullah Saw menganjurkan agar kita tidak meninggalkan shalat berjamaah kecuali apabila terdapat uzur yang sangat mendesak. Oleh karenanya rasulullah terlihat marah saat melihat para sahabat melaksanakan shalat sendiri-sendiri. Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat isya di akhir waktu, akan tetapi para sahabat saling menyendiri dan terpisah-pisah. Lalu rasulullah Saw marah di mana aku belum pernah melihat rasulullah Saw marah lebih keras dari pada itu” (H.R. Imam Ahmad)

Di dalam hadits lain rasulullah Saw bersabda: ”Hendaklah kaum-kaum mengakhiri untuk meninggalkan shalat berjamaah atau apabila tidak, maka aku akan bakar rumah-rumah mereka” (H.R.Ibnu Majah)

Misi sosial inilah yang harus mulai dibangun kembali karena terbangun kesan di tengah masyarakat bahwa shalat adalah urusan pribadi sehingga apabila terdapat sekelompok orang mengajak untuk melaksanakan shalat berjamaah, maka mereka merasa terganggu dan merasa wilayah privacy mereka sudah terganggu. 

Di Indonesia terdapat tempat-tempat yang biasa digunakan untuk melaksanakan shalat berjamaah seperti masjid, mushala, langgar atau surau. Istilah masjid sebenarnya diambil dari kata sajada-yasjudu-sujudan yang berarti meletakkan dahinya di atas bumi dan orang yang melakukannya diistilahkan dengan sajid (baca:orang yang sujud). Setelah itu muncullah istilah masjid.

Masjid secara etimologi berarti segala tempat yang digunakan untuk beribadah atau bisa diartikan ia merupakan tempat sujud. Oleh karena itu di mana saja seseorang melakukan shalat asalkan tempatnya suci dari nazis termasuk lapangan, maka tempat tersebut disebut dengan masjid. Hal ini sesuai dengan hadits nabi: “Dijadikan untukku setiap tanah yang baik masjid dan suci” (H.R. Bukhari-Muslim). Tetapi secara terminologi, masjid adalah sebuah bangunan yang digunakan untuk shalat. Berdasarkan hal tersebut berarti suatu bangunan yang dipersiapkan secara khusus untuk digunakan sebagai tempat shalat, maka ia disebut dengan masjid. Dengan demikian istilah mushala, langgar dan surau sesungguhnya masuk ke dalam katagori masjid. Hal tersebut karena memang bangunan-bangunan tersebut dipersiapkan untuk pelaksanaan shalat. Sementara lapangan karena ia tidak berbentuk bangunan, maka tidak dapat dikatakan sebagai masjid secara terminology, tapi boleh melaksanakan shalat di atasnya asalkan ia suci.

Banyak mesjid dibangun dan dalam membangunnya terlihat jerih payah yang demikian kentara. Sebagian dari panitia pembangunan mesjid ada yang berkeliling kampung untuk meminta plerek (baca:berasa secukupnya), membawa proposal ke para dermawan sampai kepada meminta kepada para pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor di jalan-jalan.

Merupakan suatu hal yang ironi memang apabila jerih payah tersebut hanya selesai sampai berdirinya bangunan masjid itu saja. Hal yang berat adalah kewajiban mengisinya dengan melaksanakan shalat berjamaah agar kita mendapatkan pahala yang nilainya dua puluh tujuh kali lipat lebih besar dari shalat sendirian. Dan ada hal yang tersembunyi yang sesungguhnya tidak kalah pentingnnya yaitu nilai-nilai sosial dari shalat berjamaah yang sudah mulai hilang. Marilah kita hidupkan shalat berjama'ah!




[1] Muhammad Amin al Kurdi, Tanwirul Qulub, (Surabaya:Syirkah Bangkul Indah,tanpa tahun) hal.159

 

Kategori Artikel: