Seandainya Sifat Wara’ Dimiliki Pejabat Kita

Wara’ adalah bersikap hati-hati. Bersikap hati-hati dalam bertindak atau melakukan sesuatu sangat dianjurkan oleh Islam. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:

من حسن اسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Seorang muslim yang baik adalah seseorang yang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat”

Di dalam literatur tasawuf sifat wara’ merupakan salah satu maqam (baca: tangga ruhani) yang harus dilalui oleh seorang sufi. Sehingga sufi yang baik adalah sufi yang dapat melewati tangga ini. Seseorang yang telah mampu melewati tangga ruhani ini, maka ia akan dianugerahkan sifat “khauf”(baca:takut) terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt.   

Sifat wara tidak hanya pada melakukan perbuatan dan tindakan, tetapi juga masuk pada mengkonsumsi makanan. Sebab, seorang muslim dituntut untuk mengkonsumsi makanan yang halalan thayyiban.  Untuk mengimplementasikan sifat wara’ tersebut, bahkan bukan hanya makanan yang haram saja yang dilarang, melainkan makanan yang syubhat juga tidak boleh.

Dalam sebuah hadis rasulullah Saw bersabda:

الحلال بين والحرام بين وما بينهما امور مشتبهات ومن وقع فى الشبهات فقد وقع فى الحرام كاالراع يرعى حول الحمى يوشك ان يقع فيه

“Sesuatu yang halal itu sudah jelas, sesuatu yang haram juga sudah jelas dan di antara keduanya(yang halal dan haram)merupakan perkara-perkara yang syubhat. Barangsiapa yang jatuh di dalam perkara syubhat, maka sungguh ia telah jatuh di dalam perkara haram seperti seorang pengembala yang menggembalakan hewan (gembalaannya) di sekitar padang rumput (orang lain) dikhawatirkan masuk ke dalamnya”

Di dalam Islam makanan yang haram terbagi menjadi dua:

Pertama, makanan yang haram dzatnya atau makanannya tersebut memang jelas keharamanannya berdasarkan al-Quran atau al_Hadis seperti mengkonsumsi babi.  Sebagai implementasi dari sikap wara’ seorang muslim, maka ia berkewajiban secara spontan untuk meninggalkannya.

Kedua, dzat makanan itu sendiri halal tetapi cara memperolehnya tidak halal seperti hasil  mencuri, korupsi atau kolusi. Hal seperti ini berarti makanan yang dikonsumsi halal berdasarkan al-Quran dan al-Hadis, hanya saja karena memperolehnya dengan cara-cara yang tidak halal, maka ia menjadi tidak halal.

Mengapa Islam sangat sensitif terhadap hal-hal seperti ini? Berdasarkan dalil naqli jelas sekali dikatakan di dalam sebuah hadis:

كل ما نبت من حرام فالنار اولى بها 

“Segala sesuatu yang tumbuh dari barang yang haram, maka api neraka lebih utama dengannya”

Hadis ini sebenarnya dapat dipahami dari dua sisi, sisi ekplisit dan sisi implisitnya. Dari sisi ekplisit ditetapkan neraka bagi orang yang mengkonsumi barang haram kelak di akhirat dan barang haram yang dikonsumsi tersebut akan berubah menjadi api dan akan membakarnya. Sementara dari sisi implisit menegaskan bahwa siapa saja yang mengkonsumsi barang haram, maka dirinya akan merasa panas (baca:jahat) dan energi yang keluar itu adalah energi panas juga, sehingga pekerjaan yang dihasilkan juga pasti pekerjaan panas (baca:haram). Itulah sebenarnya sirkulasi yang ada saat seseorang mengkonsumsi barang haram.

Perilaku wara’ dalam hal mengkonsumsi makanan ini telah ditunjukan oleh para ulama klasik.  Dahulu Imam Abu Hanifah mensedekahkan separuh hasil penjualan kain yang dijual oleh pembantunya karena saat itu pembantunya tidak mengetahui bahwa kain yang ia jual ternyata memiliki cacat. Imam Abu Hanifah meyakini bahwa bukan merupakan haknya untuk mengambil uang tersebut karena mestinya ia menjual kain yang cacat tersebut separuh harga bukan dengan harga yang penuh. Karena ia merasa separuh dari uang tersebut bukan miliknya, maka ia pun mensedekahnya

Imam Malik pernah disuguhkan segelas susu. Setelah ia meminum susu tersebut, ia baru sadar ternyata susu tersebut bukan susu yang diperoleh secara halal. Saat itu pula Imam Malik mengorek tenggorokannya sehingga seluruh isi perutnya keluar melalui muntahnya.  Demikianlah para ulama mensikapi makanan haram tersebut.

Para sufi juga sangat memperhatikan perilaku wara’ karena wara’ merupakan salah satu “stasiun ruhani” yang harus mereka lalui. Misalnya mereka berasumsi bahwa seorang muslim dengan “iman” yang ia miliki barangkali tidak akan mengkonsumsi barang-barang yang haram, baik haram karena bendanya itu sendiri yang haram atau karena cara memperolehnya yang haram. Hal yang jarang diperhatikan justru pada hal-hal yang bersifat syubhat. Oleh karena itu para sufi membuat klasifikasi orang yang berinteraksi dengan kita.

Dalam pandangan sufi seseorang yang kita ajak berinteraksi terdiri dari tiga model, yaitu:

Pertama, orang yang bersangkutan adalah orang yang saleh. Dalam hal ini mereka berasumsi bahwa apabila kita menerima suatu makanan dari orang saleh, maka kita tidak perlu menanyakan asal muasal makanan yang kita akan konsumsi tersebut karena kesalehannya telah menjaganya untuk berbuat keliru.

Kedua, orang yang bersangkutan tidak diketahui identitasnya. Sebagai implementasi dari sifat wara’, maka sekira tidak menyinggung yang bersangkutan, maka kita pantas mempertanyakan asal muasal makanan yang diberikan. Oleh karena itu bahasa yang dikemukakanpun harus  dengan menggunakan bahasa yang sangat halus sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain. Sementara apabila menyinggung, maka sebaiknya diam dan tidak mempertanyakan.

Ketiga, harta orang yang bersangkutan mayoritas hartanya haram. Dalam kondisi seperti iu, maka wajib hukumnya menanyakan asal-muasal benda yang dikonsumsi. Sebab kalau tidak, kita telah jatuh di dalam perkara syubhat yang dilarang.

Apabila kita melihat kondisi para pejabat kita, maka hati ini miris. Hal tersebut karena mereka sudah tidak memperdulikan lagi sumber harta yang mereka peroleh. Bekerja baru beberapa tahun dengan posisi yang biasa-biasa saja tetapi harta yang dimiliki sudah berlimpah. Sedemikian keroposkah ‘iman’ para pejabat kita, padahal kita yakin mereka adalah mayoritas muslim.

Jika demikian adanya saya teringat dengan sebuah hadis nabi:

لا يسرق السارق وهو مؤمن ولا يزني زان وهو مؤمن

“Seorang pencuri tidak akan mencuri sementara ia dalam keadaan beriman dan seorang pezina tidak akan berzina sementara ia dalam keadaan mukmin” 

Ya Allah berikanlah mereka hidayah agar negara ini senantiasa menjadi negara yang baik yang senantiasa mendapat ampunanMu bukan negara yang buruk yang senantiasa mendapatkan murkaMu. Amien Ya Rabbal Alamien.

Kategori Artikel: