Perbedaan Isim dan Fi'il

Kali ini kita akan sedikit membahas tentang ciri khas atau perbedaan antara isim dan fi’il (al-farqu bainal ismi wal fi’li). Kalau kita mengetahui artinya, tentu mudah membedakan isin dan fi’il, karena isim tidak terikat waktu dan fi’il terikat waktu. Namun bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sebuah kata itu termasuk isim atau fi’il tanpa mengetahui artinya?. Untuk itu pertama-tama kita perlu mengetahui tanda-tanda atau ciri ISIM. Isim mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh fi’il.

Ciri pertama dari ISIM adalah TANWIN. Maksudnya, apabila kita menemukan suatu kata dan ternyata ditanwin, baik dhommatain fathatain atau kasrotain, maka kata tsb adalah ISIM. Mudah kan? Pokoknya asal bertanwin maka ia termasuk ISIM. Contoh: فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ Perhatikan, kalimat ANDAADAN berharokat tanwin, oleh karena itu tidak diragukan lagi bahwa ANDAADAN tersebut termasuk Isim. Arti dari kata tersebut adalah SEKUTU.

Ciri kedua dari isim adalah AL-KHOFDHU. Apa itu? Maksudnya adalah KASROH. Jika kita menemukan sebuah kata yang harokat terakhirnya KASROH maka ia termasuk ISIM. Contoh kalimat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم (BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM). Disini kita perhatikan kata ISM pada kalimat di atas MIM-nya dikasroh. Dari situ kita tahu bahwa ISM tersebut adalah ISIM. Demikian juga lafdhul jalalah ALLAH, ia berharokat akhir kasroh, juga Arrahmaani dan Arrahiimi. Semua itu termasuk ISIM dengan tanda Khafdu/kasroh.

Untuk ciri yang ketiga dari Isim, yaitu AL-ALIFU dan LAM. Makdusnya adalah apabila kita menemukan suatu kata dan ternyata kata tersebut bergandengan dengan ALIF dan LAM pada awalnya (didahului AL), maka kata tersebut adalah ISIM. Misalnya, ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ Kita perhaitkan pada kata AL-KITAB. Ia adalah kata yang bergandengan dengan Alif dan Lam. Maka dia adalah ISIM.

Sekarang untuk ciri yang keempat dari ISIM, yaitu HARUF JER . Apabila ada suatu kata yang didahului oleh salah satu dari huruf-huruf JER (sebagaimana telah kita hafalkan dari pelajaran sebelumnya), maka kata tersebut adalah ISIM. Misalnya: وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ (Wa laa talbisulhaqqa bil Baathil). Kita perhatikan, kata-kata AL-BAATHIL didahului dengan huruf Jer yaitu BI, oleh karenanya kata al-Baathil tersebut adalah Isim. Dan perlu diingat apabila ada suatu kata sudah menerima salah satu ciri dari Isim, baik itu tanwin, AL, atau huruf Jer, maka sudah cukup dikatakan sebagai Isim dan tidak perlu keempat-empat ciri masuk bersamaan. Dalam contoh di atas, kata-kata al-Baathil memiliki dua ciri, yaitu huruf Jer dan Alif-Lam. Namun harap diperhatikan juga adanya tanda yang harus tidak boleh ketemu dalam satu kata, yaitu Tanwin dan Alif Lam. Selamanya, yang namanya Tanwin dan Alif-Lam tidak boleh masuk bersama-sama dalam satu kata. Jadi tidak boleh kita menulis misalnya: AL-KITAABUN, AL-BAATHILUN dst. (transliterasi badaronline.com)

Kategori Artikel: