Munggahan Dan Rukyat Hilal Di Bulan Ramadhan

Saat menjelang Ramadhan di Indonesia setidaknya terdapat satu tradisi dan satu syariat. Satu hal yang termasuk tradisi menjelang ramadhan adalah kegiatan munggah atau munggahan. Munggah atau mungggahan adalah bahasa Jawa yang artinya “naik”. Banyak kegiatan yang dilakukan di dalam acara munggahan ini seperti bersilaturahmi dengan berkumpul di rumah orang tua (apabila orang tua masih hidup), nyekar atau berziarah kubur ke makam orang tua atau kerabat yang telah meninggal dunia terlebih dahulu sampai melaksanakan keramas atau mandi basah bersama.

“Naik” yang dimaksud di sini tentunya bersifat umum, bisa naik ibadahnya, naik silaturahminya, naik spiritualnya dan naik yang lainnya. Intinya di bulan ramadhan ini diharapkan meningkat segala bentuk aktifitas, khususnya yang terkait dengan peningkatan ibadah.

Mengapa saya katakan bahwa munggahan merupakan tradisi? Karena memang munggahan tidak bersumber dari al-Quran dan al-hadits, melainkan dari tradisi sebagian masyarakat muslim Indonesia. Bagaimana Islam menyikapi tradisi ini? Di dalam Ushul Fiqh terdapat sumber hukum “urf” atau tardisi. Urf atau tradisi dapat dijadikan hukum selama ia tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Di dalam tradisi munggahan tidak ada sesuatu yang haram kemudian dihalalkan dan tidak ada sesuatu yang halal lalu diharamkan. Dengan demikian munggahan sesungguhnya “tidak dilarang” apalagi isinya merupakan ajaran-ajaran agama yang sangat dianjurkan seperti silaturahmi, berziarah kubur dan berbuat baik kepada orang tua. Dengan demikian munggahan masuk ke dalam katagori “urf shahih” dan barangkali ia hanya menjadi  tradisi lokal muslim Indonesia.

Kedua  adalah rukyat hilal. Rukyat Hilal termasuk syariat karena ia didasarkan pada al-Quran dan al-hadits. Rukyat Hilal menjadi keharusan yang dilakukan oleh umat Islam dalam rangka menentukan dimulainya suatu ibadah seperti penentuan tanggal 1 Ramadhan.

Ayat al Quran yang berbicara mengenai rukyat hilal adalah firman Allah SWT di dalam surat al Baqarah ayat 185: “Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”

Sementara di dalam hadits terdapat hadits riwayat Bukhari-Muslim yang dikemukakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Puasalah kalian berdasarkan rukyah dan berbukalah kalian berdasarkan rukyah, apabila samar bagi kalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari”.

Rukyat secara etimologi berarti melihat. Melihat yang dimaksud di sini dapat diartikan dengan melihat langsung dengan mata telanjang atau melalui alat. Sementara hilal adalah bulan sabit yang bentuknya sangat tipis sehingga sulit sekali membedakannya dengan awan. Oleh karena itu untuk melihat posisi hilal di tergantung ufuk sebelah barat, posisi hilal, tempat peninjau dan kejelian mata.  

Berkenaan dengan Rukyat dan Hilal ini, masyarakat di Indonesia tidak jarang menemui perbedaan dalam menentukan 1 Ramadhan. Perbedaan ini menjadi mengemuka karena satu sisi mengikuti keputusan kelompok/organisasi yang tidak kecil dan disisi lain mengikuti keputusan pemerintah.

Persoalannya adalah mengapa harus terjadi perbedaan? Perbedaan tersebut sesungguhnya terjadi karena perbedaan metode yang digunakan untuk melakukan rukyat hilal. Apabila metode yang digunakan berbeda, maka hasil yang diperoleh dimungkinkan berbeda.

Setidaknya terdapat tiga metode yang digunakan dalam rangka rukyat hilal. Pertama metode  hisab hakiki yang berarti perhitungan posisi benda-benda langit berdasarkan gerak benda-benda langit sekaligus memperhatikan hal-hal yang terkait dengannya. Dalam praktek hisab awal bulan terdapat istilah hisab hakiki taqribi, yaitu perhitungan posisi benda-benda langit berdasarkan gerak rata-rata benda langit itu sendiri, sehingga hasilnya merupakan perkiraan atau mendekati kebenaran. Ketika melakukan perhitungan ketinggian bulan, maka ia dilakukan dengan cara waktu matahari terbenam dikurangi waktu ijtima’ lalu dibagi dua. Metode inilah yang digunakan oleh Muhammadiyah.

Kedua, metode imkan al rukyah, yaitu kemungkinan hilal dapat dirukyat atau dengan istilah lain had al rukyah yang berarti batas minimal hilal dapat dilihat, yaitu suatu fenomena ketinggian hilal tertentu yang menurut pengalaman di lapangan hilal dapat dilihat. Realitas ini di dalam ilmu astronomi disebut dengan visibilitas hilal. Di dalam teori ini terdapat beberapa versi. Penelitian Danjon menyatakan bahwa hilal dapat dirukyat apabila mempunyai ketinggian 8 derajat di atas ufuk. Sementara menurut Muammer Dazer hilal dapat dilihat apabila mempunyai ketinggian 5 derajat dan jarak sudut dengan matahari saat terbenam 7 derajat. Adapun di Indonesia di dalam teori ini imkan al rukyah harus memenuhi salah satu dari dua syarat:Pertama ketika matahari terbenam ketinggian al titude bulan di atas horizon(ufuk) tidak kurang dari 2 derajat dan jarak lengkung (sudut elongasi) bulan-matahari tidak kurang dari 3 derajat. Selain itu bisa juga memilih cara kedua, yaitu usia bulan(dihitung sejak saat terjadi ijtima’) pada saat matahari terbenam tidak kurang dari 8 jam.

Cara di atas digunakan oleh kementerian agama dan suatu saat ternyata ketinggian hilal di seluruh Indonesia tidak ada yang mencapai 2 derajat sehingga diputuskan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh kemudian dilaksanakan puasa.

Ketiga, metode rukyah global. Rukyah ini menetapkan bahwa apabila hilal telah terlihat di Saudi Arabia, maka hukum tersebut berlaku bagi suluruh negara. Cara seperti ini juga pernah dilakukan oleh sebagian saudara kita beberapa tahun yang lalu. 

 Ala kulli hal bagi penulis, rukyat hilal-terlepas dari perbedaan metode di atas mengandung hikmah yang luar biasa.

Pertama, rukyah hilal menunjukkan bahwa umat Islam selalu up to date ketika akan melaksanakan ibadah dan realitas seperti ini tidak ditemukan di dalam agama lain.

Kedua, rukyah hilal menunjukkan kedekatan manusia di dalam beribadah  dengan alam. Secara tidak langsung ini adalah “isyarat halus” bahwa manusia memiliki kewajiban untuk senantiasa menjaga kesimbangan alam semesta.

Mudah-mudahan dari perbedaan yang muncul tersebut bisa menjadi hikmah dan pembelajaran agar kita sebagai umat Islam menjadi lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada.

Kategori Artikel: