Modernisasi, Sekulerisme Dan Atribut Keagamaan

modern

Manusia adalah makhluk Allah Swt yang memiliki dua dimensi, dimensi lahiriah dan bathiniah, jasmani dan ruhani atau fisik dan non-fisik. Apabila seorang manusia sudah mengabaikan salah satu dari keduanya, maka pasti akan terjadi ketidakseimbangan dan ia akan mengalami disorientasi dalam kehidupannya. Oleh karena itu seorang manusia harus memenuhi kebutuhan jasmaninya secara seimbang. Jasmani membutuhkan makanan fisik yang berupa makanan empat sehat lima sempurna yang terdiri dari makanan pokok(nasi ), lauk-pauk, sayur-mayur dan buah-buahan serta dilengkapi oleh segelas susu serta harus halal. Demikian pula ruhani juga membutuhkan makanan yang terdiri dari shalat, berdzikir, puasa dan membaca al Quran serta ritual ibadah yang lainnya.

Modernisasi

Sering sekali kita mendengar istilah modern, seperti ”gak modern luh” kata seseorang kepada temannya. Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan modern itu?. Sebab, sering kita mendengar suatu istilah tetapi ketika istilah tersebut dipertanyakan kepada kita, kita tidak mengetahui apa artiistilah tersebut. Selain itu kita juga sering berbicara tentang istilah sesuatu, tetapi kita juga tidak mengerti apa maksud dari istilah yang kita ucapkan tersebut. Padahal mestinya kita harus berpijak pada suatu ungkapan: ”Tidak setiap yang anda tahu anda harus ucapkan, tetapi apa yang anda ucapkan, anda harus tahu”.

Modern dalam bahasa Arab berarti tajdid atau pembaharuan. Oleh karena itu modernisasi berarti memodernkan atau memperbaharukan. Dengan kata lain modernisasi berarti upaya untuk memodernkan atau memperbaharukan apa saja yang melekat pada kehidupan kita, termasuk didalamnya memperbarukan tradisi, institusi, keyakinan, kebiasaan dan apa saja yang selanjutnya disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu ketika ada seseorang bergurau kepada kita “gak modern luh ah”, maka itu berarti ada sesuatu -entah itu kebiasaan atau apa yang kita pakai- yang tidak terbaharukan dalam kehidupan kita dan kita dituntut secara sosial untuk memperbaharuinya, terlepas dari suka atau tidak.

Karena perkembangan modernisasi itu demikian kuat, maka lama-kelamaan ia menjadi paham yang lantas kita mengenalnya dengan istilah modernism atau paham “modernisme”. Suatu paham yang tentu saja mendewakan (mengagung-agungkan, red) “pembaharuan” melalui ilmu pengetahuan.

Kita sudah mengetahui bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di era sekarang ini terjadi di Barat. Oleh karena itu hembusan modernisasipun dimulai dari sana. Barat adalah kawasan yang bukan Timur. Barat memiliki aspek ontologis, epistemologis dan aspek aksiologis tersendiri tentang ilmu pengetahuan yang sama sekali berbeda dengan Timur. Barat memiliki spesifikasi tersendiri dalam melihat batang tubuh ilmu pengetahuan. Barat melihat bahwa science adalah science yang tidak memiliki keterkaitan dengan agama. Ilmu pengetahuan adalah urusan manusia yang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan Tuhan -ma liqaishar li qaishar, wama lillah lillah-. Paham yang demikian yang dihembuskan oleh Barat kemudian kita kenal dengan istilah “sekulerisme”.

Sekulerisme sendiri diambil dari kata seculer yang diambil dari bahasa latin seculum. Ia mengandung arti “kini dan di sini”. Artinya, kehidupan bagi kaum sekuler hanya sekarang saja dan berada di dunia. Akhirat itu tidak ada. Akhirat itu hanya ilusi. Orang yang membicarakan akhirat adalah orang-orang yang sedang berhalusinasi, kata mereka.

Apabila kita meruntut kepada sejarah, maka kita akan ingat pada perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi di Barat. Saat itu sangat banyak teori-teori ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan doktrin gereja. Akibatnyapun fatal, banyak ilmuwan yang harus berhadapan dengan  para pendeta sehingga pertumpahan darah tidak dapat dielakkan saat itu.

Proses sekulerisme benar-benar terjadi setelah kerajaan Turki Utsmani yang merupakan simbol dari pemerintahan Islam dilenyapkan oleh Musthafa Kemal Ataturk. Dari sinilah hembusan angin sekulerisme semakin hebat dan manusia terninabobokkan oleh paham ini termasuk di dalamnya umat Islam. Paham sekulerisme inilah yang sering menggerus ajaran-ajaran agama dengan hal-hal yang terkadang mengada-ngada, misalnya yang terbaru adalah masalah khitan wanita.

Penulis ingat betul masalah khitan wanita ini ramai pada waktu tahun sembilah puluhan -saat itu penulis sedang menuntut ilmu di al Azhar University- di mana saat itu CNN memberikan laporan mengenai efek negatif dari khitan. CNN mensinyalir bahwa khitan perempuan itu melanggar Hak Asasi Manusia karena dengan dikhitan seorang wanita selain banyak mengeluarkan darah saat dikhitan juga kelak khitan mengurangi daya seksualitas wanita yang berakibat pada penguasaan kaum lelaki atas kaum wanita. Asumsi-asumsi ini dihembuskan lalu dibawa kepada organisasi PBB terutama WHO yang kemudian mengeluarkan rekomendasi yang disebarkan ke seluruh dunia termasuk Indonesia yang ikut-ikutan melarang kaum perempuan untuk dikhitan.

Dampak dari kebijakan di atas sudah terasa sekarang dengan tidak adanya layanan khitan di rumah-rumah bersalin. Sehingga seorang bidan ketika ditanya mengapa ia tidak menyediakan jasa khitan, maka ia akan menjawab karena adanya larangan khitan.

Fenomena di atas rupanya ditangkap oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang  secara keras menolak rekomendasi dari Dinkes yang mengintruksikan pelarangan khitan. MUI beralasan bahwa hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama karena khitan merupakan bagian dari syiar agama Islam. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyatakan:”Lima hal yang termasuk kesucian: ”Khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku”.

Islam menganjurkan khitan kepada kaum perempuan sebenarnya dengan tujuan memberikan “kehormatan”. Hal ini dengan harapan sifat-sifat wanita yang identik dengan keanggunan, kesantunan, pemalu dan  perasa itu tetap terjaga berada pada posisinya. Hal-hal seperti ini tentunya akan tetap terjaga dan salah satunya melalui pelaksanaan khitan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya apabila khitan perempuan yang merupakan ajaran sekaligus syiar itu benar-benar dihapuskan.

Selain itu sekulerisme juga sering mengidentikkan Islam dengan umat Islam, terutama ketika di antara umat Islam melakukan perilaku negatif.  Fenomena seperti ini terjadi baru saja saat salah seorang ketua partai Islam yang diduga melakukan suap impor sapi. Saat kasus ini mencuat tiba-tiba majalah tempo yang pernah memberitakan kasus ini sebelumnya menuliskan judul majalahnya dengan “Suap Sapi Berjenggot” dengan gambar sapi yang jenggotnya diilustrasikan dengan uang. Ketika penulis membaca judul ini penulis berfikir apa kaitannya antara jenggot dan impor sapi. Rupanya setelah lama merenung penulis lalu menyimpulkan “wah barangkali karena pelakunya yang diduga menyuap merupakan aktifis Islam yang identik dengan jenggot, maka kemudian muncullah judul itu”. Hanya saja yang penulis sayangkan adalah kata jenggot tersebut yang bukan hanya mengarah pada aktifis yang dimaksud, melainkan secara umum itu juga “menohok” umat Islam karena jenggot diakui atau tidak masih merupakan atribut sebagian umat Islam.

Apabila  kita membaca buku “Al Halal wal Haram” karya Yusuf al Qardhawi jelas sekali disebutkan bahwa hukum memelihara jenggot ada tiga pendapat. Pendapat pertama mengatakan mubah, baik dipotong atau tidak sama saja. Kedua, makruh memotong jenggot  dan ketiga haram memotong jenggot. Bahkan Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa jenggot selain merupakan atribut yang membedakan antara muslim dan musyrik sebagaimana yang terdapat di dalam hadits, maka jenggot juga merupakan identitas kelaki-lakian sehingga apabila terdapat seorang laki-laki kemudian tidak berjenggot, maka ia tidak pantas disebut laki-laki.

Berdasarkan kasus-kasus di atas, maka menurut hemat penulis sudah saatnya bagi setiap muslim agar lebih menjaga pribadi dan ajaran agamanya karena modernisasi yang identik dengan sekulerisasi ini cepat atau lambat akan berusaha untuk melenyapkan ajaran dan atribut-atribut Islam, Naudzubillah.

Kategori Artikel: