Model Ta'lim Favoritku

Dalam beberapa tahun belakangan, masjid di lingkunganku (Masjid Arrahman GSA) telah mencoba mentradisikan ta’lim sebagian malam Ahad dengan mengkaji kitab-kitab referensi. Tahun 2013 misalnya, ada kitab Riyadhus Sholihin, Fiqhus Sunnah dan Nashoihul ‘Ibad. Untuk tahun ini, dari jadwal yang dikeluarkan oleh DKM muncul kitab baru yang dikaji, yaitu kitab Fathul Mujib, Bulughul Maram, Jalalain dan Taqrib. Pergantian kitab tersebut bisa jadi karena adanya pergantian pengurus DKM, atau karena pertimbangan kesediaan ustadz, hasil evaluasi atau lainnya.

Yang patut digarisbawahi dari upaya ta’lim dengan merujuk kitab tertentu yang mu’tabar adalah kegiatan ta’lim sudah semestinya dilakukan dengan perencanaan dan sasaran yang jelas. Jika target ideal berupa kualitas keimanan dan ketaqwaan seseorang sulit diukur (kecuali sebagian perilaku yg dhahir), mestinya target materi keilmuan bisa dipilih untuk ditetapkan. Hal yang paling mudah adalah dengan mengkaji kitab tertentu yang telah dikategorikan, seperti kategori Fiqh, Aqidah dan Akhlak di satu sisi dan tahsin/tahfidz/lughah al-Qur’an di sisi lainnya. Bisa juga dengan materi Tafsir Al-Qur’an dan Tafsir Al-Hadits. Dengan cara itu, maka pertanyaan tentang kitab/materi apa saja yang sudah dikhatamkan dan dikaji oleh jama’ah di Masjid Arrahman akan mudah dijawab sekaligus menghindari berulang-ulangnya materi yang sama.

Melihat bagaimana materi dari kitab-kitab itu disajikan oleh para asatidz pada tahun kemarin, nampak bahwa para ustadz cenderung membaca materi dalam bahasa Arab secara cepat dan kemudian dijelaskan. Jika kitab Fiqhus Sunnah itu dibaca dengan cepat (langsung diterjemahkan) dan kemudian dijelaskan dengan membuat kesimpulan pendapat yang masyhur, maka kitab Riyadhus Shalihin justru dibaca pelan per-kalimah, diterjemahkan dan bahkan dijelaskan detail sebab yang dibaca oleh ustadz adalah Syarah Riyadhus Shalihin. Praktis, hanya beberapa hadits yang bisa dikaji dari sekitar 4 pertemuan selama setahun. Menyikapi hal tersebut, semoga di tahun 2014 ini kegiatan ta’lim bisa berjalan lebih baik lagi.

Melalui tulisan ini, satu hal yang saya ingin sampaikan adalah tentang bagaimana kita mencermati kembali tradisi keilmuan yang telah dicoba dikembangkan oleh para kyai di desa-desa dahulu, siapa tahu bisa kembali/tetap kita warisi. Saya ingat waktu kecil (SD/SMP) telah dikenalkan dengan model ngaji kitab kuning setelah/sambil mengkhatamkan Al-Qur’an setiap ba’da magrib, yaitu Safinah dan Taqrib (sayang tidak khatam). Dengan memegang kitab kuning yang tulisannya banyak yang tidak jelas itu (kualitas cetakan jaman dulu), saya bersama teman-teman harus mengikuti dan mengulang bacaan ustadz yang tidak sekedar menterjemahan per-kata, tetapi menterjemahkan dengan gaya pesantren (terjemahan utawi iki iku/terjemahan yang mengandung kode-kode istilah ilmu nahwu).

Dikemudian hari saya tahu bahwa kegiatan seperti itu juga  dilakukan dimana-mana, apalagi di desa-desa dekat pesantren. Kitab-kitab tersebut memang diajarkan untuk bekal generasi muslim dalam memahami ajaran Islam (fiqh),  dan itu dianggap cukup untuk bekal awal menjalani hidup sesuai Fiqh ‘ala madzhab Imam Syafi’i.  Jika kita menengok ke pesantren, kitab-kitab tersebut juga diajarkan sebagai dasar sebelum mengkaji kitab yang lebih besar (lengkap) dengan dalil (Al-Qur’an dan Hadits) dan perbandingan antar mazhab.

Alhamdulillah, pengalaman berkenalan dengan kitab kuning telah memberi kesan yang baik dan bahkan mendorong untuk menyenangi kegiatan ta’lim yang modelnya seperti itu dibandingkan dengan ta’lim model ceramah.  Model ta’lim yang lebih fokus ke materi yang ada di kitab, mendengar ustadz membaca satu persatu kalimah dalam bahasa Arab dan menterjemahkannya dengan penjelasan seperlunya, merupakan model ta’lim favoritku. Disamping bisa mengetahui sejauh mana materi yang sudah saya kaji, perbendaharaan mufradat juga akan semakin bertambah.  Semoga, ta’lim kitab Taqrib di masjid yang telah dimulai pekan yang lalu bisa menyemarakkan dan mengangkat kembali tradisi mengaji kitab kuning di tengah masyarakat muslim. Wallahulmusta'an...

Penulis: 
Kategori Artikel: