Metode Granada, 4 Langkah 8 Jam Mampu Menerjemah Qur'an

metode granada

Metode Granada merupakan metode menerjemah al-Qur'an yang dikembangkan oleh Ustadz Solihin Bunyamin Ahmad, Lc sejak 1998 atas dasar keinginan untuk memberikan yang terbaik pada peserta didik agar cepat mengerti bahasa al-Quran. Metode ini mengajarkan bagaimana menerjemahkan al-Qur'an melalui 4 langkah selama 6 jam. Delapan jam yang selama ini dipublikasikan sudah menghitung toleransi terhadap peserta didik

Nama ini terambil dan sebuah kota di Spanyol yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan gerakan terjemah (harakatut tarjamah) buku-buku ilmu pengetahuan sedunia di masa kejayaan Islam (abad VII-XII). Dengan nama ini diharapkan metode Granada dapat ikut serta dalam kemajuan umat Islam.

Dengan dasar pemahamannya terhadap bahasa Arab, Ustadz Solihin menginventarisir kata-kata dalam bahasa Arab beserta perubahannya. Ternyata perubahan itu kembali pada 3 huruf, hanya belasan saja yang tidak. Selanjutnya ia membagi perubahan-perubahan kata bahasa Arab itu menjadi awalan, akhiran, dan sisipan. Istilah ini disesuaikan dengan gramatika bahasa Indonesia yang sudah dikenal oleh masyarakat dibanding gramatika Arab. Misalnya lafaz muslim yang terdiri dari mi'm, sin, lam, dan nun memiliki tambahan huruf diawalyaitu mim. Atau kata karim, tersusun dari kaf, ra', ya, dan mim. Ia mendapat tambahan ya'. Dari rumus-rumus itulah dibuat tabel satu halaman atau Nahwu Sharaf Satu Halaman. Dari rumus ini akan mudah diketahui mana kata yang menjadi subyek, predikat, juga obyek.

Metode ini pertama kali diperkenalkan pada Forum Alumni SMP Islam Al-Azhar (ASIA) di Kebayoran Baru Jakarta Selatan yang diselenggarakan di masjid Al-Azhar Kebayoran Baru. Kemudian diperkenalkan di kalangan instansi pemerintah, diantaranya kelompok pengajian Badan Pengendalian Modal Daerah Jakarta sebagai embrio sebelum meluas ke pelosok Indonesia seperti saat ini.

Awal tahun 2000 Ustadz Solihin diundang oleh Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) untuk berdiskusi mengenai metode-metode penerjemahan al-Quran yang ada di Indonesia. Di sana metodenya dibandingkan dengan dua metode lain, yaitu Metode Istiqlal dan sistem 12 iangkah. Sejak presentasi di PTIQ inilah kemudian panggilan mulai berdatangan dari berbagai tempat. Diakui oleh penemunya, sepanjang melakukan pelatihan dengan metode ini rata-rata peserta didik rnenunjukkan keberhasilannya tidak kurang 85 persen.

Anda tertarik untuk mengetahui lebih banyak? Silakan miliki buku dan CD yang talah banyak dijajakan di toko buku. Sekilas, berikut presentasi Ustadz Solihin tentang Metode Granada.

Kategori Artikel: