Mengkaji Kembali Wacana Rasionalitas Di Dalam Islam

Dalam ilmu ushul fiqh terdapat kajian  tentang apakah akal dapat menjadi hakim bagi manusia menggantikan posisi Allah SWT dan Rasul-Nya secara mandiri dalam menetapkan hukum, atau hakim tersebut tetap tertumpu pada Allah SWT dan Rasul-Nya itu. Dalam hal ini terdapat tiga jawaban, pertama dari kalangan Mu’tazilah, kedua Asy’ariah dan yang ketiga adalah Maturidiah.

Mu’tazilah berpandangan bahwa akal dapat berfungsi menggantikan posisi Allah SWT dan Rasul-Nya untuk menjadi hakim bagi manusia. Mu’tazilah berpandangan demikian karena akal menurut mereka adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia yang dapat membedakan baik dan buruknya perbuatan manusia. Perbuatan manusia memiliki indikator tertentu dan memiliki dampak khusus di mana baik dan buruknya pekerjaan manusia dapat dibedakan oleh akal. Posisi akal dalam hal ini dapat menjadi informasi awal dalam menetapkan suatu hukum. Sebagai contoh, di suatu kawasan pedalaman yang di dalamnya tidak ada dakwah Islam sama sekali, suatu kaum bisa menetapkan hukum untuk mengatur kehidupan mereka.

Kalangan Asy’ariah berpandangan sebaliknya. Menurut mereka hanya Allah melalui kitab suci-Nya dan Rasul sajalah yang dapat menjadi hakim bagi manusia untuk menetapkan hukum Allah. Mereka berargumen, walaupun akal merupakan anugerah tertinggi yang diberikan oleh Allah SWT untuk mencerna pengetahuan (termasuk menjadi hakim), tetapi akal manusia berbeda-beda dalam menilai baik buruknya perbuatan. Bahkan, akal seorang manusia saja dalam menilai suatu pekerjaan bisa berbeda, hari ini ia mengatakan bahwa perbuatan itu baik, tetapi esok bisa saja ia mengatakan bahwa perbuatan itu buruk. Atas dasar inilah maka kalangan Asy’ariah menetapkan bahwa akal tidak dapat menjadi informasi awal dalam menetapkan hukum Allah. Informasi perihal hukum hanya berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apabila ada masyarakat bertempat tinggal di daerah pedalaman yang belum tersentuh dakwah Islam, maka mereka tidak dimintakan pertanggungjawaban atas perbuatan mereka.

Sementara itu, kalangan Maturidiah bersifat fifty-fifty. Dalam pandangan Maturidiah, akal dapat menjadi hakim bagi manusia dalam menetapkan baik atau buruknya perbuatan manusia. Hanya saja tidak selalu, artinya tidak secara total akal menjadi hakim karena banyak perbuatan manusia yang terkait dengan hukum Allah yang akal manusia tersebut tidak dapat menilai dan menentukan kebenarannya. Misalnya mengenai tata cara shalat yang benar itu seperti apa? Dalam hal ini tentu harus menunggu informasi dari al-Quran dan hadits mengenai tata caranya agar seseorang tidak tersesat.

Dari deskripsi di atas dapat disimpulkan betapa akal di dalam Islam menjadi sesuatu yang sangat berharga, sampai-sampai kaum Mu’tazilah secara radikal menempatkannya sebagai informasi awal walaupun terkait dengan hukum Allah SWT. Ini artinya betapa akal di dalam Islam benar-benar menjadi basis atau dasar bagi dimensi apapun, termasuk dimensi ilahiyah.

Oleh karena itu Yusuf al-Qardhawi berpandangan bahwa akal merupakan dasar keimanan. Akal di dalam Islam tidak ditempatkan untuk berhadap-hadapan dengan keimanan apalagi menyerangnya. Hal ini sangat jauh berbeda dengan fakta sejarah yang terjadi di abad pertengahan di mana gereja secara membabi buta menghantam ilmu pengetahuan dan rasionalisme.

Islam tidak mengenal adanya pertikaian antara rasionalisme dan iman di dalam perjalanan sejarahnya. Pemikiran seperti ini tidak memiliki tempat, baik di dalam kitab suci dan di benak tokoh-tokohnya. Hal ini berbeda 360 derajat dengan salah satu teologi agama yang berasumsi bahwa iman adalah satu persoalan yang tidak memiliki hubungan dengan rasionalisme, bahkan rasionalisme harus ditolak secara mentah-mentah dari agama.

Namun persoalannya adalah, mengapa umat Islam mundur dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi jika dibandingkan dengan umat-umat lain di berbagai negara? Negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim hampir tidak ada yang memiliki teknologi tinggi kecuali beberapa negara saja misalnya Iran. Oleh karena itu tesis yang dikemukakan oleh Nurcholis Madjid yang berasumsi bahwa negara-negara yang mayoritas pendudukanya muslim adalah negara-negara yang paling terbelakang teknologinya bisa jadi benar adanya.

Contoh yang bisa saya kemukakan disini misalnya realitas Amerika. Mayoritas penduduk Amerita yang Kristen Protestan (walaupun sekarang pemeluknya turun drastis karena diserang oleh sekularisme) sangat maju secara teknologi dan ekonomi. Banyak negara menggantungkan perekonomiannya kepada Amerika, termasuk Indonesia yang konon hampir 24 persen perekonomian Indonesia masih bergantung kepada mereka.

Jerman dengan kemajuan teknologi dan industrinya telah menjadi negara yang diperhitungkan di benua Eropa dan dunia. Kita mengetaui bahwa mayoritas penduduk Jerman adalah kristen katolik.

Di Asia Tenggara, negara yang industri pertaniannya cukup maju adalah Thailand dengan mayoritas penduduknya beragama Budha. Ada satu ironi disini, konon dengan kecanggihan teknologi pertaniannya, Thailand telah berhasil merekayasa bibit durian yang berasal dari Indonesia. Dari bibit durian Indonesia yang memiliki isi buah sedikit dan bijinya besar, direkayasa menjadi memiliki isi buah yang banyak dan memiliki biji yang relatif kecil dan durian tersebut terkenal dengan nama “durian montong”. Masyarakat Indonesia saat ini sangat menggandrunginya sehingga memaksa negara untuk mengimpornya dari Thailand. Apabila demikian kenyataannya, siapa yang salah, negara atau para petani?

Di benua Asia terdapat negara yang saat ini industrinya sedang naik daun, yaitu India yang mayoritas penduduknya Hindu. Kita mengetahui bahwa dari kendaraan jenis Bajaj -yang anti rusak itu- serta berbagai merek motor lain telah cukup lama memasuki pasar dan siap bersaing bahkan sudah memiliki pangsa pasar tersendiri di Indonesia. Ini artinya dengan rasioanalisme yang tinggi sebagai basis dari munculnya teknologi telah dikembangkan secara maksimal oleh India sehingga mereka mampu bersaing dalam soal industri dengan negara-negara lainnya, padahal agama mereka adalah Hindu.

Jepang yang dijuluki macan Asia adalah negara yang hampir menguasai seluruh industri otomotif di Indonesia, dan agama mayoritas mereka adalah agama Shinto. Masyarakat Indonesia apabila berbicara tentang sepeda motor, maka sudah dapat dipastikan hal itu tidak terlepas dari merek Honda, Yamaha dan Suzuki dan itu semua nama-nama Jepang.

Dari kenyataan-kenyataan tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa posisi akal dalam teologi umat Islam perlu diwacana ulang atau direkontruksi ulang. Selama ini mayoritas kita mencerca keberadaan Mu’tazilah sebagai sekte di dalam Islam yang senantiasa mengelu-elukan rasionalitas. Mu’tazilah di anggap memiliki “sejarah hitam” di masa Bani Abbasiah yang dengan paham teologinya pada saat itu telah memakan banyak korban. Hanya saja di sisi lain kita lupa bahwa “The Golden Age of Islam” atau masa kekemasan Islam justru terjadi pada di masa Bani Abbasiah yang saat itu berada di bawah paham teologi Mu’tazilah. Artinya, sangat “tidak adil” apabila kita menilai Mu’tazilah hanya dari sisi negatifnya saja tanpa menilai sisi positifnya.

Saya kira kita bisa memposisikan akal setinggi-tingginya tanpa harus menjadi Mu’tazilah (apabila kita masih merasa alergi dengan nama itu), sehingga konsep yang dicanangkan oleh Allah SWT bahwa bumi ini yang berhak mewarisi hanya hamba-hamba-Nya yang soleh benar-benar terwujud. Amien Ya Rabbal 'Alamien.

Kategori Artikel: