Mengenal Metode MUSTAQILLI

Umat Islam yang ingin mempelajari bahasa Arab, saat ini bisa mendapat kemudahan dengan ditemukannya Metode Mustaqilli oleh Ustad Agus Shohib Khoironi. Metode Mustaqilli ini dikembangkan oleh Ustad Agus Shohin Khoironi seorang alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Metode ini merupakan sebuah metode baru yang bersumber pada kaidah Kitab Audlohul Manaahij.

Pengajaran dengan metode ini, orang yang belajar bahasa Arab akan dirangsang untuk aktif mempraktikkan dan mengembangkan kalimat dalam bahasa Arab fushah berdasar rumusan-rumusan tersebut. Sehingga mereka yang belajar bahasa Arab dengan metode ini akan terbiasa secara mandiri baik dalam membaca, memahami, mengarang, menerjemah serta mengirab dan juga bercakap-cakap dengan bahasa Arab.

Ustad Muhlisin salah seorang pengajar Metode Mustaqilli dalam berbagai kesempatan menyebutkan orang yang belajar metode ini bisa mengalahkan mereka yang sudah belajar bertahun-tahun. Bahkan ada seorang ibu yang tadinya tidak bisa membaca tulis Al Quran dalam tempo yang singkat bisa membaca kitab gundul.

Saat ini metode Mustaqilli diajarkan di berbagai daerah di tanah air.

Mengapa Harus Mustaqilli?

Majalah OASE melaporkan bahwa pada hari Sabtu 17 Januari 2009 dalam suasana penuh khidmad,  hadir di antara ratusan undangan di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), 7 tokoh agama yang dinilai telah membawa banyak pengaruh dan banyak berjasa kepada ummat dalam acara penganugerahan penghargaan yang disampaikan oleh menteri Agama RI M Maftuh Basyuni. Di antara deretan  ke 7 tokoh agama tersebut ada satu nama yang merupakan sosok cendekiawan muda yang belum banyak disebut oleh media massa nasional, namun ternyata kiprahnya di dunia internasional cukup dikenal dengan baik khususnya bagi peminat pada bidang bahasa Arab dan studi Timur Tengah. Ya, dialah Ustadz Agus Shohib Khaironi, Lc, sosok muda kelahiran 1972 alumni pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur sekaligus juga alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini cukup terkenal di Timur Tengah dan di Amerika Serikat (AS) karena karyanya berupa kitab panduan tata bahasa Arab dengan metode pendekatan baru dengan nama kitab “Audhohul Manahij”. Metode pengajaran dalam kitab ini oleh penulisnya disebut dengan istilah “Mustaqilli”.

Metode mustaqilli adalah metode cepat dalam penguasaan bahasa Arab baik dalam membaca kitab, menterjemah kitab, menulis, mengarang, dan berbicara dalam bahasa Arab. Disebut dengan mustaqilli karena siswa dituntut sangat aktif secara mandiri. Metode ini sengaja disusun dengan konsep sederhana, tidak rumit namun sangat komprehensif.

Metode ini lahir dari hasil penelitian mendalam terhadap proses belajar mengajar bahasa Arab di berbagai tempat, baik di pesantren-pesantren dan institusi pendidikan di Indonesia maupun institusi pendidikan di Timur Tengah, sehingga lahirlah buku “Al-Arabiyyah li Ghoiril ‘Arab” dan buku “Audhohul Manahij” yang telah mendapatkan pengakuan dan apresiasi berbagai kalangan baik dalam negeri maupun dunia Internasional, di antaranya:

1.   Apresiasi dari ulama sekaligus pakar fiqih dunia yang sudah tidak asing lagi bagi kita, yaitu Prof. DR. Wahbah Musthafa Az-zuhaily:

 ”Buku ini merupakan karya dari seorang yang mempunyai pengetahuan mendalam dalam bahasa Arab. Dengan metodenya, ia menjadikan tata bahasa Arab yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami”.

2.   Apresiasi Pakar Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Syaikh DR Basyiiri Abdul Mu’thy:

“Saya adalah orang Arab yang belum pernah melihat kitab mu’jam Nahwu Shorof yang paling mudah dipahami yang ditulis oleh seorang yang bukan Arab, di mana orang Arab sendiri belum ada atau belum pernah menulis dengan metode seperti ini sampai dengan saat ini”

3.   Apresiasi masyarakat pendidikan di Amerika Serikat:

Di Amerika Serikat, kitab ini laku keras. Bahkan, booksurge LLC (Part of The Amazon Group of Company) yang berkedudukan di Charleston, South Carolina-USA turut memperluas penyebaran buku ini ke universitas dan lembaga-lembaga pendidikan di Amerika Serikat, khususnya pada bidang Arabic Program, Islamic Studies, Middle And Near Eastern Studies. Selain di Amerika, kitab ini juga mendapat sambutan luas di Iran sebagai salah satu kitab rujukan dengan kategori kitab terlaris yang mendapat bintang lima book rating. Dan bahkan di Ohio University, buku ini merupakan rujukan utama karena sangat sistematis, lengkap, mudah difahami, dan memadukan teori dengan praktek dengan pendekatan grafik, tabel dan skema.

Tokoh-tokoh yang memberikan pujian terhadap kitab ini, antara lain, Professor Adel Gamal (Department of Near Eastern Studies, University of Arizona, USA), Inas Hassan, Ph.D (School of Language – Arabic, University of Maryland, USA), Ramzi Salti, Ph. D (Arabic Language & Literature. Stamford University, USA), Martin Sulzer-Reichel (Director of Arabic and German Language Program, Department Culture of Modern Literatures and Cultures, University of Richmond, USA), Paul O. Myhre, Ph.D (Wabash Center in Association of American Academy of Religion, USA), dan Blackwell Publishers-UK (Book & Resources Review Editor for the Journal Teaching Theology and Religion

4.   Apresiasi masyarakat di Iran

Di Iran, kitab ini mandapat bintang lima (book rating) sebagai kitab terlaris pada website Ira, serta tanggapan yang sangat positif selama diterbitkan sejak Februari 2007 hingga akhir tahun lalu.

5.   Apresiasi Pemerintah Indonesia

Ustadz Agus Shohib Khaironi, penulis metode mustaqilli ini pada 17 Januari 2009 telah mendapatkan anugerah penghargaan dari pemerintah Indonesia bersama 6 tokoh nasional lainnya melalui Departemen Agama sebagai Tokoh yang dinilai telah banyak memberikan pengaruh dan perubahan positif kepada umat.

6.   Sambutan Dunia Pendidikan dan Pesantren di Indonesia

Sambutan dunia pendidikan dan pesantren di Indonesia terhadap kehadiran metode mustaqilli ini sangat baik. Kementrian Agama telah melakukan pelatihan secara nasional kepada guru-guru madrasah mengenai metode mustaqilli ini. Di samping itu, metode ini juga telah ditransfer ke pesantren-pesantren di berbagai daerah seperti Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan dan berbagai daerah lainnya. Dengan metode baru ini, bahkan pesantren Ushuluddin di Lampung telah cukup berprestasi dalam bidang bahasa Arab, baik di tingkat propinsi maupun tingkat nasional.

Ternyata sambutan masyarakat Indonesia terhadap metode mustaqilli ini tidak sebatas hanya pada dunia pendidikan formal dan pesantren saja, tetapi masyarakat umum dari berbagai kalangan juga menyambutnya dengan sangat baik. Hal ini terbukti dari antusiasme peserta kursus bahasa Arab dengan metode ini yang datang dari berbagai kalangan dan dari beragam  profesi dan latar belakang pendidikan.

KEUNGGULAN METODE MUSTAQILLI

  1. Praktis, sederhana,  mudah dipahami, namun sangat komprehensif, sehingga dengan metode ini, membaca kitab dan menguasai bahasa Arab cukup dalam waktu yang singkat, dengan total waktu 203 jam saja.
  2. Memprioritaskan praktik dari sebuah teori kaidah yang didesain dalam bentuk rumusan redaksi kalimat dalam bahasa arab fusha dengan pendekatan grafik, tabel dan skema.
  3. Merangsang peserta didik untuk aktif mempraktikan dan mengembangkan kalimat dalam bahasa arab.
  4. Terbiasa secara mandiri dalam : 1] membaca, 2] menerjemah, 3] memahami, 4] mengarang, 5] meng’irab, 6] bercakap-cakap, sehingga secara alami akan terbentuk dzauq  ‘arabiyyah (rasa menjiwai bahasa Arab) dengan baik.

Metode mustaqilli ini juga lahir dari keprihatinan mendalam Ustadz Agus Shohib terhadap produk pendidikan Indonesia. Ribuan pesantren dan institusi pendidikan Islam di Indonesia dinilainya belum menghasilkan lulusan yang berkualitas. Ini terbukti dari sangat minimnya karya ilmiah Islam yang berskala internasional yang dihasilkan oleh lulusan dunia pendidikan kita, sesuatu yang sangat kontradiktif dibandingkan dengan kondisi di Tmur Tengah yang sangat produktif dalam menghasilkan karya ilmiah. Menurutnya hal ini terutama disebabkan oleh kendala kemampuan penguasaan bahasa Arab yang baik tidak dimiliki, padahal bahasa Arab merupakan alat utama dalam menggali Ilmu  pengetahuan Islam dari sumbernya yang asli. Minimnya kemampuan penguasaan bahasa Arab dengan baik ini disebabkan oleh belum adanya metodologi pembelajaran bahasa Arab yang tepat. Lulusan dari  pesantren-pesantren di Indonesia rata-rata memiliki kemampuan bahasa Arab yang masih jauh dari standar, padahal mereka telah belajar bertahun-tahun. Demikian pula dengan lulusan institusi pendidikan lainnya, termasuk perguruan tinggi Islam. Oleh karenanya diperlukan terobosan untuk memecahkan persoalan ini, yaitu harus diciptakan satu metodologi pembelajaran yang tepat yang memudahkan penguasaan bahasa Arab sehingga penguasaan bahasa Arab dapat direalisasikan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dari study dan penelitian beliau yang mendalam maka lahirlah buku pembelajaran metode mustqilli ini yang diberi judul “Audhohul Manahij” yang terdiri dari 2 jilid. Untuk dapat mempelajari kitab ini dengan baik ditulislah buku “Dasar-dasar Mustaqilli” yang terdiri dari 2 jilid pula dan satu kitab Pra-Mustaqilli  satu jilid. Sehingga untuk dapat menguasai dengan baik bahasa Arab standar (Bahasa Arab fushah), harus menguasai 5 jilid kitab ini. Kitab ini memang disusun sangat sistematis dan memudahkan, namun demikian, pembelajaran tidak akan efektif jika tidak dilakukan pelatihan oleh seorang pengajar yang telah di training langsung mengenai system pengajaran metode mustaqilli ini.

Jika diikuti secara serius, proses belajar bahasa Arab dengan metode mustaqiili memerlukan waktu 203 jam pertemuan. Dengan total waktu pertemuan tersebut, siswa yang belum mengenal huruf hijaiyyah sama sekali akan mampu menguasai bahasa Arab dengan baik yang meliputi: membaca (Arab gundul), menulis dengan benar, menerjemah, mengarang (insya’), meng-‘irab dan bercakap-cakap dengan baik dan lancar. “Lulusan mustaqilli dijamin setara dengan calon siswa yang sudah siap kuliah di Timur Tengah”, tegas Ustadz Agus Shohib.

Di samping bekerja sama dengan Departemen Agama dalam mentransfer metode mustaqilli ini kepada para pengajar madrasah di seluruh Indonesia, saat ini Ustadz Agus Shohib juga mengembangkan system pelatihan dan kursus, di antaranya telah terselenggara di Jakarta Selatan dan di Depok. Baru-baru ini beliau juga bekerja sama dengan Bina Sarana Informatika (BSI) mengembangkan system pembelajaran ini. “Saya sangat prihatin dengan  kondisi umat Islam saat ini. Seharusnya bahasa Arab adalah bahasa kedua setelah bahasa ibu kita. Kenyataannya sekarang image bahasa Arab seolah-olah hanya bahasa kelas bawah, bahasanya para TKW saja. Padahal ia adalah bahasanya para Ahli Syurga”, kata Ust. Agus Shohib dalam sebuah kesempatan.

Di Depok,  Ustadz Agus Shohib bekerja sama dengan seorang penggiat dakwah kantor, M.Fathoni Yasin mendirikan lembaga kursus yang diberi nama “Depok Arabic Center (DAC)” atau “Markaz Al-Lughoh Al-‘Arobiyyah Depok” yang berlokasi di Pertokoan Maharaja A1/16 Jl Raya Sawangan Depok Jawa Barat. Lembaga ini dikelola secara professional sebagaimana kursus-kursus bahasa Inggris yang sudah terkenal.  Rencananya lembaga ini akan dikembangkan ke kota-kota lain seluas-luasnya dengan brand “Indonesia Arabic Center (IAC)”.

Masyarakat ternyata cukup antusias menyambut lembaga bahasa Arab dengan metode mustaqilli ini. Peminat dari kursus ini ternyata juga sangat beragam dari sisi usia, mulai dari usia pelajar SMP sampai  dengan usia ibu-ibu rumah tangga usia 60an bahkan mendekati 70an tahun. Dari sisi profesi pun, peminat bahasa Arab metode ini juga sangat beragam, mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, pegawai kantoran, pengurus DKM, pengusaha, bahkan polisi aktif juga antusias mengikuti kursus ini.

“Visi kami adalah visi dakwah, kami ingin nantinya umat Islam menjadi tidak asing lagi dengan bahasa utma mereka yaitu Bahasa Arab. Kami menyisihkan 40% dari sisa operasional kami untuk dialokasikan pada beasiswa Arabic Program di DAC bagi pengurus DKM”, tegas Fathoni.

Di samping kursus regular, juga dilakukan pelatihan metode pengajaran program mustaqilli ini pada para ustadz dan guru bahasa Arab  yang memang sudah menguasai Bahasa Arab dengan baik. Ustadz Agus dan Tim juga giat melakukan kegiatan pelatihan ke berbagai pondok pesantren, baik di Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur dan Lampung, dengan harapan dapat terjadi penyebaran bahasa Arab yang lebih massive lagi. Di Lampung misalnya, Pondok Pesantren Terpadu Ushuluddin telah beralih total ke metode mustaqilli ini setelah uji coba pengajaran selama satu tahun ini. Prestasi para santrinyapun cukup membanggakan, diantaranya juara 1 debat bahasa Arab se Lampung, juara harapan tingkat nasional dan beberapa prestasi lainnya dari sebelumnya yang minim prestasi dalam bidang ini.

Gambaran Umum Kajian Tiap Level Kitab

Kitab (Al Arabiah Li Ghoiri Al Arab) yang berarti “Bahasa arab untuk orang non arab” ini merupakan kitab pra untuk memasuki kitab yang terdiri dari 3 kitab yaitu :

  • Kitab yang pertama, terdiri dari 2 level (1 & 2) dengan edisi teori kaidah berbahasa Indonesia.
  • Kitab yang kedua, terdiri dari 2 level (3&4) dengan edisi sebagaimana kitab yang ke satu.
  • Kitab yang ketiga, terdiri dari 2 level (5 & 6) dengan edisi berbahasa arab total.
  • Dan yang terakhir yaitu langsung menggunakan kitab aslinya dengan edisi berbahasa Arab total.

Program Tingkat Dasar

Sebelum dimulai proses belajar mengajar bahasa Arab metode mustaqilli ini calon siswa diharuskan mengikuti placement test. Jika hasil dari test ini calon siswa belum lulus standar tertentu sebagai syarat untuk mengikuti kelas mustaqilli, maka siswa diharuskan mengikuti kelas pra-mustaqilli (Tingkat Dasar).

Tingkat dasar ini disebut dengan tingkat pra-mustaqilli, karena pada level ini benar-benar di mulai dari sangat dasar dari penguasaan bahasa Arab dan  belum menggunakan kitab mustaqilli. Tingkat dasar (pra-mustaqilli) terbagi menjadi dua level, yaitu tingkat dasar-1 (al-marhalatu al-I’daadiyyah al-ula) dan tingkat dasar-2 (al-marhalatu al-I’daadiyyah al-tsaaniyyah).

Tingkat dasar-1 (al-marhalatu al-I’daadiyyah al-ula) diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin bisa membaca kitab dan mempelajari bahasa Arab dari tingkat yang paling dasar, yaitu bagi siapa saja yang belum bisa menulis dan membaca tulisan Arab sama sekali.

Tingkat dasar-1 ini menggunakan kitab “Dasar-Dasar Mustaqilli 1” yang pembahasannya memprioritaskan praktek membaca dan menulis abjad Arab, kemudian dikembangkan dalam penulisan dan bacaan per kata dan per kalimat, lalu dilanjutkan dengan praktek baca dan tulis dari bacaan dan tulisan Arab baik dari Al-Quran, Al-hadits maupun bacaan-bacaan Arab lainnya.

Walaupun tingkat dasar-1 ini untuk level paling dasar dalam bahasa Arab, namun demikian pada level ini tetap diajarkan percakapan Bahasa Arab dasar dengan cara dibantu cara baca dengan huruf latin dan terjemahnya. Dalam prakteknya cukup dilafadzkan dan diperagakan secara berulang-ulang dengan tanpa membicarakan gramatika Arabnya sehingga peserta didik hafal dan biasa memperagakannya sebagaimana dalam situasi yang sebenarnya. Durasi waktu dalam setiap pertemuan terdiri dari 70% matei dan 30% untuk percakapan dan peragaannya.

Total target waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tingkat dasar-1 ini adalah selama 54 jam atau sekitar 2,25 bulan dengan 2 kali pertemuan per minggu dalam durasi 3 jam setiap pertemuannya.

 Tingkat dasar-2 (al-marhalatu al-I’daadiyyah al-tsaaniyyah), merupakan lanjutan dari tingkat dasar-1 dengan menggunakan kitab “Dasar-Dasar Mustaqilli 2”. Setelah dipandang lancar menulis dan membaca Arab karena telah menguasai kitab “Dasar-Dasar Mustaqilli 1”, maka pada tingkat ini sudah dikenalkan gramatika Arab paling dasar, kemudian mengenal pembagian kata dalam bahasa Arab dan melafadzkan secaara berulang-ulang sehingga hafal kosa kata dari masing-masing kata tersebut sesuai kebutuhan pada tingkatan ini. Dari kosa kata yang telah dihafal tersebut, kemudian dikembangkan dalam rangkaian kalimat-kalimat pendek dengan system latihan tulis dan percakapan berdasarkan rumusan-rumusan tertentu. Melalui pembiasaan menulis dengan tangan dan melafadzkan apa yang telah ditulis tersebut, diharapkan bahasa Arab dapat menyatu pada diri setiap siswa sehingga ketika memasuki tingkat berikutnya mereka benar-benar sudah siap.

Di samping itu, tingkat ini juga memprioritaskan percakapan bahasa Arab dasar yang didesain dengan sangat sederhana, sistematis dan praktis sesuai materi yang sedang dipelajari. Pada setiap pertemuan, guru harus menyampaikan dan mempraktekkan percakapan bahasa Arab praktis berbasis metode Mustaqilli siswa sehingga mereka dapat menguasai dengan baik dalam bentuk praktek dengan durasi waktu setiap pertemuan 70% untuk target materi dan 30% untuk percakapan sehingga tidak ada alasan bagi siapa saja yang mempelajari bahasa Arab pada tingkat ini untuk tidak mampu bercakap-cakap dengan bahasa Arab sesuai dengan tingkatannya.

Total target waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tingkat dasar-2 ini adalah selama 60 jam atau sekitar 2,5 bulan dengan 2 kali pertemuan per minggu dalam durasi 3 jam setiap pertemuannya.

Program Tingkat Menengah

Jika hasil placement test calon siswa sudah dianggap lulus dari Tingkat Dasar (pra-mustaqilli) maka dapat langsung mengikuti  kelas Mustaqilli. Tingkat Menengah ini telah mulai memasuki kelas Mustaqilli dan kitab yang digunakan adalah kitab “Al-‘Arabiyyah li Ghoiril ‘Arab” jilid I sampai dengan III, sehingga pada kelasTingkat Menengah ini dibagi menjadi tiga level, yaitu level -1 (Al-Marhalah Al-Ula), level-2 (Al-Marhalah Al-Mutawasithah), dan level-3 (Al-Marhalah Al-Mutaqoddimah).

Level-1 (Al-Marhalah Al-Ula) menggunakan kitab “ Al-‘Arabiyyah li Ghoiril ‘Arab I ”  yang memprioritaskan penguasaan teori kaidah-kaidah dasar yang akan dijadikan bahan baku untuk merangkai berbagai pola kalimat dalam bahasa Arab fushah. Adapun kajiannya mencakup 4 hal, yaltu:

  • Pengenalan umum
  • Kata benda
  • Kata kerja
  • Kata bantu

Masing-masing topic tersebut dibahas dari berbagai sisi sebagai bahan baku untuk memasuki level berikutnya. Keberhasilan level-evel berikutnya sangat ditentukan pada level-1 ini oleh karena itu suatu keharusan bagi siswa yang mempelajari bahasa Arab dengan metode ini harus benar-benar menguasai level  ini dengan baik.

Dan bagi para pengajar jangan sampai memindahkan siswa nya ke level berikutnya sebelum dinyatakan lulus dari level ini dengan penguasaan yang baik.

Peran guru pada leve lini relatif masih lebih aktif dibanding siswanya karena harus memahamkan teori kaidah pada siswa sefaham-fahamnya dan harus sering mengulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan dan siswa menjadi hafal dengan sendirinya. Serta bagi siswa dituntut untuk menguasai teori kaidah tersebut dengan baik.

Level-2 (Al-Marhalah Al-Mutawasithah) menggunakan kitab “ Al-‘Arabiah li Ghoiri Al-‘Arab II ” edisi bahasa indonesia. Pada tingkat ini, di samping target utamanya sama dengan kitab yang pertama juga ditambah satu target lagi yaitu “Pengembangan muhatdasah berdasarkan teori kajian dan bacaan-bacaan yang diambil dari berbagai disiplin ilmu, koran, majalah serta kitab turost dan mu’asyir.

Level-3 (Al-Marhalah Al-Mutaqoddimah) menggunakan kitab “Al-‘Arabiah li Ghoiri Al-‘Arab III” edisi bahasa arab. Pada tingkat ini prioritas utamanya adalah penajaman qiro’ah, pemahaman, menjelaskan isi bacaan dan menyimpulkan, mengarang dan menterjemahkan berbagai bacaan arab setingkat penguruan tinggi di negara – negara Arab, serta membuat karya tulis dalam bidang qowa’idullughoh al ‘Arabiah tingkat menengah dengan menggunakan bahasa Arab.

Pada tingkat ini siswa akan membaca berbagai teks arab dari kitab, baik turost maupun mu’asyir serta dari koran arab dengan cukup mengacu pada kamus.

Total target waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Tingkat Mnengah ini adalah selama 108 jam atau sekitar 4,5 bulan dengan 2 kali pertemuan per minggu dalam durasi 3 jam setiap pertemuannya.

Program Tingkat Lanjut

Tingkat Lanjut (advance / mahir) ini menggunakan kitab “Audloh Al-Manaahij” jilid 1 dan 2 edisi bahasa arab, yaitu kitab aslinya dengan perbandingan dari berbagai kitab nahwu shorof selevelnya baik dari kitab-kitab turost maupun modern.

Pada level ini siswa sudah mampu membaca dan memahami sendiri sehingga bisa diterapkan metode diskusi dan presentasi secara bergilir. Dan guru hanya sebatas mendampingi, mengarahkan, mengontrol serta memberi solusi dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa serta meluruskan hal- hal yang dipandang belum sesuai.

Pada tingkat ini prionitasnya adalah mempertajam dan mempraktekkan seluruh teori yang selama ini dikaji pada setiap level­ sebelumnya dari kitab-kitab turost, mu’asir, majalah, dan koran-koran berbahasa Arab serta kajian-kajian tingkat perguruan tinggi Islam di luar negeri.

Pada akhir dari level ini, siswa harus menulis karya ilmiah dalam bidang qowa’idullughoh al arabiah tingkat menengah ke atas dengan benbahasa arab sebagai konsekuensi dari bahasa arab tingkat tinggi yang telah dilampaui.

Sikap ini diambil dalam rangka meningkatkan kwalitas bahasa Arab dan keilmuan agama Islam di negara kita tercinta dan Asia Tenggara pada khususnya dan dunia Islam non Arab pada umumnya. Sehingga ke depan melahirkan para penulis Islam dengan menggunakan bahasa Arab sesuai dengan spesiflkasinya masing-masing yang akan diperhitungkan oleh alam Islami dan dunia pada umumnya.

Total target waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Tingkat Lanjut ini adalah selama 95 jam atau sekitar 4 bulan dengan 2 kali pertemuan per minggu dalam durasi 3 jam setiap pertemuannya.

Kategori Artikel: