Islam itu Satu atau Banyak?

Ada satu hadis yang disabdakan oleh Rasulullah Saw sebelum wafat, yaitu:

تركت فيكم امرين لن تضلوا ماتمسكتم بهما : كتا ب الله و سنتي

”Aku tinggalkan pada kalian dua hal yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat, yaitu al-quran dan al-hadits. Hadits tersebut menganjurkan kepada kita umat Islam untuk senantiasa merujuk kepada al- Quran dan al-Hadis dalam segala permasalahan yang ada terutama yang terkait dengan permasalahan agama dan keagamaan. Jadi mestinya tidak ada perbedaan pandangan di dalam Islam mengenai hal-hal yang terkait dengan permasalahan agama dan keagamaan. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita berbeda? Islam itu satu atau banyak?Atau dengan bahasa lain kebenaran itu satu atau lebih dari satu?

Di Indonesia terdapat berbagai macam paham keagamaan. Dari sisi pendekatan, ada pemahaman keagamaan yang fundamentalis, moderat dan liberal. Dari sisi asalnya ada yang produk luar dan ada yang produk lokal. Dari sisi kecenderungan mendirikan negara, ada yang cenderung mendirikan khalifah dan ada yang menegaskan bahwa negara Indonesia ini sudah final. Artinya, pemahaman keagamaan di Indonesia sangat bervariasi.

Sebenarnya letak perbedaan kita di mana? Apakah perbedaan kita pada Islamnya atau pada pada tafsir terhadap Islam? Apabila perbedaan tersebut terdapat pada Islam, maka ini sangat serius dan berarti agama Islam itu banyak sekali. Tetapi apabila perbedaan tersebut ada pada tafsir terhadap Islam, maka hal itu akan biasa saja, wajar dan tidak perlu diperbesar masalahnya.

Al-Quran adalah firman Allah yang masih sangat global yang tentu saja membutuhkan penafsiran atau penjelasan. Mengapa demikian? karena Allah Swt tidak datang ke muka bumi ini sendiri untuk menjelaskan apa yang Ia maksud di dalam al- Quran. Dengan demikian maka dibutuhkan penjelas dan penafsir terhadap apa yang diturunkan oleh Allah Swt agar kita mengerti maksud dari Allah Swt.

Umat Islam sepakat bahwa sosok yang paling memiliki kompetensi dan otoritas di dalam menafsirkan al Quran hanyalah Rasulullah Muhammad Saw. Oleh karena itu salah satu fungsi dari hadits adalah penjelas bagi al-Quran terhadap masalah-masalah yang bersifat umum yang membutuhkan penjelasan.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah orang yang memiliki otoritas sebagai penafsir dan penjelas dari al-Quran setelah Rasulullah Saw wafat? Pertanyaan ini menjadi penting karena Islam adalah agama yang selalu up to date dengan realitas sehingga di mana dan kapan saja Islam dapat menjawab dan menyelesaikan permasalahan zaman.

Sesungguhnya ketika Rasulullah Saw masih hidup ia sudah memberikan isyarat bahwa otoritas penafsir juga diberikan kepada para ulama (mujtahid). Hal ini terlihat ketika Rasulullah Saw hendak mengutus Muadz bin Jabbal sebagai hakim di Yaman. Saat itu rasulullah Saw bertanya kepada Muadz, “Wahai Muadz! Dengan apa engkau menetapkan hukum apabila engkau dihadapkan dengan permasalahan hukum? Muadz menjawab:”Aku akan menetapkannya dengan al-Quran”!Rasulullah Saw bertanya kembali?”Apabila tidak kau temukan juga jawabannya di dalam al- Quran, maka dengan apa engkau menetapkannya?”Dengan berseloroh Muadz menjawab:”Dengan sunnah rasul”. Apabila tidak kau jumpai jawabannya juga, tanya rasul lagi. Muadz menjawab:”Aku akan berijtihad dengan tidak sembrono”.

Dari penjelasan di atas nampak terlihat bahwa apa yang ditanyakan oleh Rasulullah Saw kepada Muadz merupakan  pengabsahan dan “legalisasi” atau dengan bahasa agamanya merupakan “sunnah taqririyah” kepada para ulama mujtahid untuk melakukan penetapan hukum sekaligus sebagai penafsir bagi al-Quran dan hadits. Artinya, yang memiliki kewenangan dan otoritas untuk menafsirkan al-Quran dan hadis setelah Rasulullah Saw wafat adalah para ulama mujtahid.

Hanya saja agar identitas ulama mujtahid ini tidak diisi oleh sembarang orang, maka para ulama menyusun suatu disiplin ilmu yang bernama ilmu ushul fiqh. Di dalam ushul fiqh inilah para ulama memberikan kriteria-kriteria tertentu tentang siapa yang layak disebut sebagai ulama mujtahid. Bahkan di dalam ilmu ushul fiqh terdapat bahasan khusus mengenai kriteria tersebut dan siapa saja bisa merujuk ke sana. Setelah merujuk ke dalam kitab-kitab ushul fiqh, nampak begitu berat syarat-syarat yang ditetapkan oleh para ulama, di antaranya harus mengerti ayat-ayat hukum, hadis hukum, menguasai kaedah bahasa Arab, mengerti sejarah Islam, paham fiqh dan ushul fiqh dan sejumlah kriteria lainnya. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar tidak sembarang orang maju lalu mengaku sebagai mujtahid seperti Lia Eden dan Mushadiq yang beberapa waktu lalu telah membuat “geger” umat Islam Indonesia.

Sumber inti hukum Islam hanya dua, al-Quran dan al-Hadits. Artinya apabila kita merujuk kepada keduanya, maka niscaya tidak ada perbedaan di antara kita. Tetapi dalam kenyataannya di lapangan ternyata banyak sekali paham dan perbedaan di antara kita. Saya sering mengatakan bahwa perbedaan tersebut sesungguhnya bukan pada al-Quran dan hadits. Al-Quran dan hadis -karena takdir Allah- tetap saja sama, isinya tidak bertambah dan tidak berkurang. Apa yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dan apa yang disabdakan oleh nabi kepada para sahabat adalah apa yang kita baca sekarang. Hanya saja pandangan dan persepsi kita terhadap al-Quran dan hadis tersebut yang berbeda. Jadi sesungguhnya perbedaan tersebut bukan pada al-Quran dan hadis tetapi pada penjelasan al Quran dan hadisnya.

Saya sering mengilustrasikan realitas ini dengan empat orang buta yang belum pernah melihat gajah lalu ditanya tentang bentuk gajah. Ketika gajah dihadirkan lalu masing-masing orang buta tersebut memegang gajah, maka pasti tafsir terhadap gajah menjadi berbeda. Orang buta pertama memegang kaki gajah lalu ditanya tentang gajah, maka ia akan menjawab bahwa bentuk gajah mirip dengan tiang listrik. Orang buta kedua memegang perut gajah lalu ditanya tentang bentuk gajah, maka ia akan menjawab bahwa gajah itu bulat seperti drum minyak. Orang buta ketiga memegang belalainya lalu ditanya tentang bentuk gajah, maka ia akan menjawab bahwa gajah itu panjang mirip dengan selang air. Orang buta keempat memegang gadingnya, ketika ditanya tentang bentuk gajah, maka ia menjawab gajah itu tajam seperti pisau.

Dengan pernyataan di atas, maka apakah kita akan menyalahkan empat orang buta tersebut? Tentu tidak bisa seperti itu. Sebab mereka sudah menjelaskan tentang bentuk gajah sesuai dengan hasil “rabaan tangan mereka. Kita dapat menyatakan bahwa tafsir itu keliru mungkin pada orang buta lain yang tidak sempat memegang gajah lalu menafsirkan tentang bentuk gajah.

Jadi biarkanlah perbedaan tafsir itu terjadi dan jangan memaksakan untuk sama. Dr. Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa berbeda pandangan di antara umat  tidak menjadi masalah tetapi yang terpenting perbedaan dalam “keberagaman” bukan perbedaan yang “bertentangan”. Perbedaan keberagaman tersebut tentu akan menjadi indah seindah warna pelangi. Selain itu, perbedaan memang merupakan “sunnatullah” di mana jika ada laki-laki, maka pasti ada perempuan, apabila ada panas, maka pasti ada dingin dan tentu perbedaan-perbedaan lainnya. Oleh karena itu saya ingin berkata: ”Selamat untuk berbeda!”

Kategori Artikel: