Ilmu Bermanfaat, Makhluk Apakah Itu?

ilmu bermanfaat

Setiap pelajar atau santri tentunya ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barakah. Dahulu dan mungkin masih sampai sekarang penulis senantiasa ingat kepada apa yang dikemukakan oleh bapak kyai dan para asatidz kepada para santri suatu ungkapan: “Apabila kalian ingin memiliki ilmu yang bermanfaat, maka kalian harus rajin belajar dan jangan malas”. Dahulu penulis bertanya-tanya apa sesungguhnya yang di maksud dengan ilmu yang bermanfaat itu? Mengapa seorang pelajar atau santri harus memperoleh ilmu yang bermanfaat? Lalu apa indikator yang menunjukkan seseorang memiliki ilmu yang bermanfaat? Barangkali ini adalah bahasan yang akan penulis ulas dalam kesempatan kali ini   

Dalam kitab al Mu’aawaanah, wal mudzaaharah wal muaazarah lir raaghibiina minal mu’miniina fi thariiqi subulil aakhirah karya al Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad al Haddad, dikatakan bahwa setidaknya terdapat empat indikator ilmu yang bermanfaat:

Pertama, ilmu yang kita miliki menambah pengetahuan kita tentang Dzat, Sifat, Perbuatan dan nikmat Allah Swt kepada kita.

Dalam menuntut ilmu tentu kita mempelajari ilmu tentang tauhid, yaitu ilmu yang mempelajari Dzat, Sifat dan Perbuatan Allah SWT yang tidak lain tujuannya agar kita mengenal siapa Allah, bagaimana sifatNya dan apa yang Allah telah lakukan terhadap alam semesta ini. Apabila kita sudah mengetahuinya, tentu harapannya adalah bagaimana   ilmu tersebut menambah ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sekarang tinggal kita koreksi apakah ilmu tauhid yang kita sudah pelajari itu sudah menambah ketakwaan kita kepada Allah? Apabila jawabannya “sudah”, berarti ilmu tersebut telah bermanfaat. Tetapi apabila belum, maka berarti ilmu tersebut belum bermanfaat dan kita harus mengoreksi diri kita kembali.

Kedua, dengan ilmu yang anda telah pelajari, maka anda mengetahui perbuatan taat yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada anda lalu anda melaksanakannya dan anda juga telah mengetahui perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah SWT kepada anda lalu anda meninggalkannya.

Para ahli ushul fiqh mengatakan bahwa salah satu syarat taklif/perberlakuan hukum dapat dikatakan sah apabila pelaku hukum mengetahui apa yang ia lakukan. Oleh karena itu apabila seseorang tidak mengetahui apa yang ia lakukan, maka perbuatan pelaku tidak mendapatkan imbalan apa-apa. Oleh karena itu kita sebagai pelajar atau santri harus mengerti mengenai apa yang diajarkan oleh guru-guru kita di lembaga tempat kita belajar. Sebab, kalau kita tidak mengerti berarti ilmu yang kita pelajari tidak bermanfaat. Selain itu bagaimana kita akan memanfaatkan ilmu yang kita telah pelajari sementara ilmu yang ada di hadapan kita tidak kita pahami. Oleh karena itu seorang pelajar harus serius dan sungguh-sungguh dalam belajar sehingga seseorang dapat memahami ilmu yang ia pelajari.

Seorang pelajar tidak hanya dituntut untuk memahami apa yang ia pelajari saja, melainkan ia juga dituntut untuk mengamalkan apa yang telah dipahaminya. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia telah ketahui (baca:pahami), maka Allah SWT akan memberikan ilmu mengenai sesuatu yang sebelumnya ia tidak ketahui”.  

Ketiga, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mewariskan sikap zuhud terhadap kehidupan duniawi dan kecintaan terhadap perbuatan akhirat.

Sering orang salah mengartikan istilah “zuhud”, sehingga zuhud diartikan kepada sikap membenci hal-hal duniawi, padahal yang dimaksud dengan zuhud bukan itu. Jika yang dimaksud zuhud adalah membenci hal-hal duniawi, maka ia bertentangan dengan firman Allah SWT :”Wabtaghi fii maa aatakallahu daaral aakhirah walaa tansa nashiibaka minad dunya wa ahsin kama< ahsanallahu ilaika”artinya: “Carilah bekal untuk kehidupan akhiratmu dan janganlah kau lupakan urusan duniamu dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepada engkau”

 Islam tidak melarang kepemilikan pribadi. Seorang muslim boleh saja memiliki harta yang banyak, hanya saja ia harus ingat bahwa di dalam hartanya tersebut ada hak orang lain, yaitu hak kaum fakir miskin.

Syaikh Alawi al-Haddad menyatakan bahwa indikator seseorang yang memiliki sikap zuhud adalah orang tersebut tidak merasa gembira terhadap apa yang apa yang ia miliki dan tidak merasa kehilangan dan tidak merasa sedih apabila ia kehilangan hartanya. Selain itu kehidupan duniawi tidak menyibukkan dirinya sehingga ia meninggalkan kehidupan akhiratnya.

Keempat, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat memperlihatkan kepada kita tentang kecacatan dan keburukan perbuatan yang kita lakukan.

Manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Tetapi di sisi lain dikatakan dalam sebuah hadits “tidak dapat seseorang dikatakan sebagai seorang muslim yang baik, apabila orang tersebut jatuh ke dalam lobang/kesalahan yang sama” Jadi meskipun kita mendapatkan dispensasi bahwa apabila kita melakukan kesalahan lalu beristigfar, maka Allah Swt akan mengampuni kita. Tetapi kita harus ingat bahwa kesalahan yang kita lakukan itu bukanlah kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya. Dan apabila kita dapat melakukan hal ini, berarti ilmu yang kita miliki adalah ilmu yang bermanfaat.

Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang memiliki ilmu bermanfaat. Amien ya rabbal alamin.

Kategori Artikel: