Hari Raya Solidaritas Umat

Di antara diskusi yang terus saja muncul terkait pelaksanaan penyembelihan hewan qurban adalah masalah KULIT hewan qurban. Jika shahibul qurban dan mustahik tidak mau memanfaatkan, terus panitia harus bagaimana? Mengolahnya? Wow...alangkah repotnya. Menjualnya? Mmmmm ini yang biasanya jamak dilakukan, sebab praktis dan cepat beres urusannya.

Tapi, tunggu dulu. Tidak semudah itu, sebab pro kontra langsung muncul jika ada panitia yang usul agar kulit hewan qurban "Dijual". saja. Ini masalah yang "perasaan" selalu hangat di hari-hari menjelang idul qurban. Tidak jarang sesama panitia harus sampai tarik urat leher utk mempertahankan argumentasinya.

Jangan dijual (titik), bukankah begitu kata Nabi? dan sebagian besar ulama pun menjelaskannya demikian? Kulit merupakan bagian dari daging qurban yang tidak boleh dijual karena berarti ia menarik kembali sebagian daging yang telah diqurbankan. Ini yang menjadikannya tidak sah qurbannya. Adapun jika yang menjual adalah orang yang mendapatkan bagian sedekah atau hadiah, maka boleh-boleh saja. Begitu argumentasinya. Tapi, apakah mesti seperti itu???

Pokoknya rame dan seru, sebab di antara ulama sendiri berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian melarangnya secara multak, sebagian lainnya membolehkan dengan syarat, yaitu boleh jika hasil penjualannya tidak kembali ke shahibul qurban atau panitia. Bukankah panitia itu wakil shahibul qurban, sehingga tidak boleh dia menjual kulit?

Nah, di sini mulai lagi perdebatannya. Bukankah hasil penjualannya juga bukan untuk pribadi panitia, tetapi ada yang sedekahkan ke fakir miskin dan ada pula yang untuk makan-makan panitia yang (biasanya) jumlahnya amat sangat banyak. Mereka, para panitia, kebanyakan memang benar-benar mustahik kok (bahkan sebagian fakir miskin), termasuk juga para tetangga shahibul qurban yang hampir pasti akan dapat jatah, bahkan di antara panitia juga shahibul qurban-nya sendiri.... Pada akhirnya, panitia harus memutuskan.

Yang jelas, aroma kebersamaan, kegotongroyongan dan silaturahim antar warga sangat kuat terasa di hari itu. Hari Raya Idul Qurban, adalah hari solidaritas umat. Yang berkurban nampak keikhlasannya, dan yang tidak berkurban nampak juga keikhlasannya turut serta membantu tanpa memperhitungkan upah (hanya berharap kemurahan hari panitia). Jika dengan membantu dia mendapatkan lebih banyak dari yang tidak ikut membantu, maka hal itu wajar-wajar saja. Toh dia tidak menuntut harus diberi lebih, tetapi menjadi suatu panggilan hati bahwa "ikut" menjadi bagian dari panitia (baik direncanakan maupun yang dadakan) Insya Allah lebih baik dari pada yang "hanya" menerima.

Yang perlu menjadi catatan adalah, pada asalnya ber-qurban itu adalah dilakukan (disembelih) oleh shahibul qurban sendiri termasuk membagikannya kepada orang lain. Jika atas alasan kebersamaan atau kemudahan dia perlu mewakilkan kepada Panitia, maka sudah semestinya dia harus rela mengeluarkan biaya operasional secukupnya. Artinya, boleh dan wajar saja Masjid mengeluarkan biaya-biaya untuk "perayaan Idul Adha" berasal dari Kas Masjid, tetapi sebaiknya yang diperuntukkan untuk operasional penyembelihan dan pendistribusian berasal dari Shahibul Qurban. Disinilah masjid harus "pinter-pinter" mengkalkulasi antara kebutuhan dan "keinginan".

Pada akhirnya, terima kasih kepada pada shahibul qurban yang telah ikhlas berbagi daging qurban, sehingga orang-orang yang jarang makan daging sapi atau kambing....bisa diingatkan kembali nikmat dan gurihnya daging...

Selamat Hari Raya Idul Qurban 1436

Penulis: 
Kategori Artikel: