GETAR (Gerakan Tarjamah) Al-Qur’an Melalui Metode Tamyiz

Term of Reference

Semua muslim pasti sepakat bahwa Al-Qur’an dalam kedudukannya sebagai kitab suci merupakan sumber informasi ilahiyah, sekaligus sumber interaksi ibadah antara seorang hamba dengan Allah Swt. Yang telah menurunkannya. Sebagai informasi ilahiyah, Al-Qur’an merupakan kitab yang memuat berbagai aturan yang ditetapkan Allah Swt untuk membimbing Umat manusia ke jalan kebenaran yang dikehendaki-Nya, sehingga manusia tidak menyalahi semua yang menjadi keinginan Allah Swt. Dalam fungsinya ini, Al-Qur’an menjadi penting bukan sekadar sebagai pengingat pada saat Kalamullah ini diturunkan, namun lebih dari itu, ia menjadi dokumen abadi yang selalu berbicara di setiap perlintasan zaman. Sementara, dalam kedudukannya sebagai sumber interaksi ibadah, Al-Qur’an baik secara tekstual maupun, pesan-pesan yang terkandung didalamnya merupakan bagian dari ibadah. Dalam konteks ini, bisa digambarkan bahwa siapapun yang membaca, mempelajari, mengkaji, memahami, bahkan mengamalkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, adalah bagian tidak terpisahkan dari ibadah.

Karena itulah, ada semacam kekahawatiran dari Allah bila petunjuk dan jalan lurus yang Ia tuangkan di dalam Al-Qur’an tidak lagi dipedulikan. Allah berfirman:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِيْ اتَّخَذُوْا هَذاَ الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا

“Dan Rasul (Muhammad) Berkata:…Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan (tidak dipedulikan” (Q.S. Al-Furqan, 25:30)

Hal tersebut bisa terjadi sebagaimana disinyalir Al-Qur’an sendiri dikarenakan hati mereka telah terkunci rapat untuk mencerap dan mengambil pelajaran segala yang telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an (Q.S. Muhammad: 24). Maka, bila demikian adanya bersiap-siaplah untuk menghadapi kehidupan yang jauh dari peringatan yang akan berbuah kehidupan yang serba sempit (Q.S.Thaha, 20: 124) dan syetan akan selalu menjadi partner dan rekan setia dalam kehidupan mereka (Q.S. Al-Zukhruf, 43: 36). Padahal, syetan bagi orang yang beriman adalah musuh nyata yang harus selalu dihindari dan dijauhi, karena wataknya yang selalu menyeret-nyeret dan mengajak manusia ke jalan kesesatan yang menghinakan. Wal ‘iyadzu billah….

Dengan demikian, bisa dipahami betapa pentingnya peranan Al-Qur’an dalam kehidupan seorang muslim dalam konteks apapun. Ia diturunkan agar menjadi pelajaran berharga bagi semua manusia yang mau menghargainya.

Selanjutnya, untaian firman ilahiyah yang tertuang dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt dalam bahasa Arab ternyata bukanlah kendala awal dan akhir yang menjadi alasan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber kesulitan. Bahkan secara tegas Allah menyatakan, “Al-Qur’an diturunkan bukan untuk membuat hati manusia menjadi susah (Q.S. Thaha, 20: 2), namun ia adalah untaian kalamullah yang harus (berusaha) untuk dipahami dan dijadikan pelajaran (Yusuf, 12:2)”.

Merenungi entitas Al-Qur’an sebagai kitab suci berbahasa arab yang harus dipahami oleh segenap umat Islam, meniscayakan sebuah upaya dan kesungguhan agar Al-Qur’an benar-benar dipahami. Beranjak dari Q.S. Yusuf: 2 di atas, Allah sepertinya sedang mengajak Umat Islam agar berusaha memahami bahasa induk Al-Qur’an, Bahasa Arab. Sebab tidak mungkin Al-Qur’an dipahami oleh siapapun bila bahasa arab yang menjadi bahasa pengantarnya tidak dipahami.

Bagi Umat Islam Indonesia dan Umat Islam di belahan dunia lain yang tidak berbahasa ibu bahasa arab, bisa jadi memahami bahasa arab sebagai langkah awal memahami Al-Qur’an adalah kendala berat yang harus dihadapi. Di sinilah bermula tantangan itu. Bahasa arab sebagai bahasa tutur Al-Qur’an seharusnya menjadi bahasa yang juga tidak sulit dipahami, karena secara repetitif Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu mudah untuk dijadikan pelajaran dan peringatan bagi manusia (Q.S.Al-Qamar,  54:17, 22, 32, 40). Karenanya, sejak masa awal Islam khazanah kajian seputar pengkajian bahasa arab menjadi salah satu mainstream yang banyak diminati. Kitab-kitab turats yang berhubungan dengan ilmu kebahasaan (bahasa arab) banyak bermunculan. Namun, dalam perkembangannya kajian bahasa arab yang semula ditujukan untuk memepermudah pemahaman Al-Qur’an di kalangan umat Islam menjadi ekslusif sebagai sebuah kajian bahasa ansich. Sehingga alih-alih semakin banyak umat islam yang memahami kandungan Al-Qur’an, malah banyak yang disibukkan dengan perdebatan yang mengasyikan seputar ilmu bahasanya.

Lagi-lagi tentang Al-Qur’an yang dijanjikan kemudahannya oleh Allah Swt. di tengah kerancuan tujuan pengkajian bahasa perlu ditempuh berbagai cara agar semakin banyak umat Islam yang memahami Al-qur’an tanpa terkendala dengan bahasa pengantarnya. Bertahun-tahun mempelajari bahasa arab ternyata bukan jaminan semakin banyak yang memahami Al-Qur’an, penyebabnya sekali lagi karena bahasa arab ditempatkan secara ekslusif bahkan teralienasi dari tujuan awalnya untuk memahami isi dan kandungan Al-Qur’an.

Apalagi kalau dilakukan questioner umum secara random kepada umat Islam dengan sebuah pertanyaan apakah mereka memahami isi kandungan Al-Qur’an?, Kuat dugaan akan banyak yang menjawab tidak. Lalu, bila ditanyakan mengapa mereka tidak mampu mamahami isi kandungan Al-Qur’an, bisa diprediksi jawabannya karena mereka kesulitan mempelajarinya. Padahal, sebagaimana dijelaskan di atas berpedoman pada informasi ilahiyah dalam Q.S. Al-Qamar yang secara repetitif disebutkan sebanyak 4 (empat) kali, Allah telah menjamin bahwa Al-Qur’an itu mudah. Lalu, mengapa sekarang dianggap sulit? Karena kita mempelajrinya dengan cara belajar Al-Qur’an yang sulit.

Oleh karena itu, ikhtiar untuk memudahkan umat Islam memahamai Al-Qur’an dengan cara yang mudah mutlak harus dilakukan. Berbagai metode pun meng-emerge seiring dengan gairah para pegiat dakwah untuk membantu umat Islam bisa dengan cepat memahami Al-Qur’an. Tanpa perlu menyebutkan satu persatu, bisa dikatakan dari sekian banyak metode yang lahir untuk memudahkan umat memahami Al-Qur’an masih terdapat beberapa catatan penting yang harus diketahui, Pertama, berbagai metoide yang lahir pada akhirnya berdiri secara ekslusif sebagai sebuah kajian terpisah. Ada yang secara spesifik memberikan aksentuasi pada pemahaman tarjamah, dan ada juga yang justru lebih cenderung memberikan aksentuasi pada pemahaman membaca kitab-kitrab turats (kitab kuning). Kedua, Masih sedikit−bila tidak disebut tidak ada sama sekali−, yang ditujukan untuk berkhidmat memudahkan anak-anak (yang telah bisa membaca Al-Qur’an) turut memahami isi kandungan Al-Qur’an dengan mudah dan cepat.

Maka, bertitik tolak dari keinginan untuk menyatukan visi dengan seluruh umat Islam, untuk mudah memahami kandungan isi Al-Qur’an melalui kemampuan cepat menerjemahkan Al-Qur’an sedari kecil, bahkan lebih dari itu, memberikan akselerasi kompetensi untuk memahami kitab Kuning (Turats), Ustadz Zhaun Fatihin atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abaza melalui serangkaian riset yang dilakukannya berhasil merumuskan sebuah metode pembelajaran yang mudah, cepat, dan menyenangkan untuk menerjemahkan Al-Qur’an dan membaca kitab kuning sejak anak-anak yang dapat dikuasai dalam kurun waktu 100 jam pembelajaran. Metode yang lahir dari ketekunan dan ‘ijtihad riset’nya tersebut kemudian dinamai sebagai METODE TAMYIZ.

Identitas

Bermula dari uji coba metode yang dilakukan Abaza terhadap beberapa anak yang outputnya berhasil menerjemahkan Al-Qur’an secara mandiri dengan cepat, sepulangnya Ust. M.S. Kaban berziarah dari maqbarah Al-Imam Al-Syafi’I beliau mengamanatkan kepada Abaza untuk mendalami risetnya tentang metode cepat tarjamah Al-Qur’an dan mebaca kitab kuning. Didorong oleh semangat untuk menghadirkan kembali generasi emas Imam Syafi’I di tengah-tengah umat Islam, berbagai uji coba dan penggalian sumber melalui kegiatan mengutak-atik teori-teori baku nahwu dan sharaf pun dilakukan dan walhasil lahirlah metode TAMYIZ. Secara definitive bisa digambarkan melalui visi besarnya yaitu metode mudah, cepat, dan menyenangkan untuk pintar mnerjemahklan Al-Qur’an dan membaca Kitab Kuning (Turats) secara mandiri dalam kurun waktu 100 Jam.

Lebih detail lagi Abaza menjelaskan bahwa Tamyiz merupakan lembar kerja (worksheet) tentang formulasi teori dasar Quantum Nahwu-Sharaf yang dalam pembelajaran Bahasa Arab bisa dikategorikan pada Arabic for Specific Purpose (ASP) dengan target sangat sederhana yaitu sedari kecil anak SD/MI dan pemula mubtadi’in) mampu menerjemahkan Al-Quran dan membaca Kitab kuning.

Dan Metode TAMYIZ ini mulai di-launching oleh pemilik hak ciptanya (ABAZA) pada gelaran Pesta Buku Jakarta persisnya tanggal 4 Juli 2009. Untuk memantapkan validitas metode yang baru saja diluncurkan setelah “matur” kepada K.H. Dr. Akhsin Sakho, Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lajnah Pentashih Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indoinesia beliau bersedia menguji sahih metode ini kepada beberapa anak usia 7 -12 tahun yangvtelah dibina selama 12 hari pada tanggal 10 Januari 2010.

Belajar Mudah Tarjamah Qur’an dan Kitab Kuning

Meng-‘emerge’nya metode Tamyiz ini tidak serta merta bertujuan menggugurkan khazanah Ilmu Nahwu-Sharaf yang teorinya telah dibangun memalui ijtihad dan jihad ilmiahnya para ilmuwan muslim bertahun-tahun lamanya. Metode ini lahir tidak dengan tujuan menganggap enteng dan meremehkan teori-teori dasar dan baku dalam ilmu Nahwu-Sharaf. Metode Tmyiz adalah ikhtiar bersahaja untuk membantu sebanyak-banyaknya umat Islam mudah memahami Al-Qur’an dan membaca kitab kuning tanpa harus rikuh dengan sederet istilah-istilah (yang oleh para pemula dan anak-anak) dianggap sulit. Kalau dibilang Metode Tamyiz “Taisir” (memudahkan), ya memang sedari awal perumusan dan riset yang dilakukan sebelum lahirnya metode iuni memang ditujukan untuk membantu dan memudahkan siapapun orang islamnya asal sudah pernah kecil dan bisa membaca Al-Qur’an mampu menerjemahkan Al-Qur’an dan membaca kitab kuning tanpa harus selalu bergantung pada kegiatan ngaji regular di pesantren sembari menghabiskan waktu bertahun-tahun.

Kalau boleh dirumuskan (Abaza, hal. 1) mengapa belajar Al-Qur’an itu mudah sebagai berikut:

  1. Allah menjamin Al-Qur’an itu mudah (Q.S. Al-Qamar, 54: 17, 22, 32, 40)
  2. Allah mengajarkan Al-Qur’an kepada yang mau mermpelajarinya, (Q.S. Ar-Rahman, 55:1-2)
  3. Bahasa Arab memiliki lebih dari 30.000 mufradat
  4. Al-Qur’an memiliki 2.065 mufradat yang terdiri dari 1.676 yang ‘musytaq’ dan 389 ‘jamid’
  5. Mufradat tersebut di atas diulang-ulang dalam Al-Qur’an sebanyak 77.865 kali (Riwayat Imam Hafash)
  6. Dari sejumlah mufradat yang dimiliki Al-Qur’an hanya sedikit yang pengulangannya sering, sehingga menhafal tarjamah Al-Qur’an menjadi mudah
  7. Kalimat dalam bahasa Arab hanya terdiri dari HURUF, ISIM, dan FI’IL
  8. Huruf mewakili 34,4 % mufradat Al-Qur’an, Isim mewakili 37,7 %, dan Fiil mewakili 27,9 %
  9. Pengulangan 540 mufradat yang paliung sering diulang-ulang dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
    • 185 Huruf diulang sebanyak 26.786 kali (mewakili 34,4 %)
    • 105 Isim sering diulang sebanyak 10.477 kali (mewakili 13 %)
    • 110 Fi’il sering diulang sebanyak 12.773 kali (mewakili 16 %)
    • 140 Isim dan Fi’il yang terjemahannya sama dalam bahasa Indonesia diulang sebanyak 10.096 kali (mewakili 13 %)
    • 540 Mufradat yang paling sering diulang sebanyak 60.132 kali di atas mewakili 77% atau 23,2 Juz
  10. Sekitar 80 % dari mufradat yang pengulangannya pada kisaran 2-4 digit dalam Al-Qur’an terdapat pada Surah Al-Baqarah
  11. Pada Setiap surah hanya terdapat penambahan mufradat sedikit-sedikit.

Mengapa Kitab Kuning?

Kebanyakan orang Islam beranggapan bahwa yang punya kemampuan membaca Kitab Kuning atau kitab gundul (Turats) hanyalah mereka yang menempuh pendidikan di pesantren selama bertahun-tahun melalui sederet pembiasaan dan aktivitas rutin lainnya. Ada juga yang beranggapan kemampuan dan penguasaan kitab kuning hanyalah kompetensi ekslusif yang hanya dimiliki Kaum Elit agamawan tertentu yang kerap direpresentasikan melalui sebutan-sebutan Ustadz, Kyai, Ajengan, dan lain-lain.

Kitab kuning adalah kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab tanpa harakat dan hanya bisa dibaca bila seseorang telah memiliki kemampuan dan penguasaaan dasar Nahwu-Sharf. Disebut Kitab Kuning karena awalnya, kitab-kitab berbahasa arab tanpa harakat dicetak di atas lermbaran-lembaran kertas berwarna kuning. Dalam perkembangan selanjutnya, meskipun kertas berwarna kuning sudah mulai jarang digunakan, istilah kitab kuning masih melekat sebagai sebutan ‘sakral’.

Dalam pandangan metode TAMYIZ, cara membaca Kitab Kuning sama persis dengan cara membaca Al-Qur’an yang dihilangkan harakatnya, sehingga, Kitab Kuning sama dengan Al-Qur’an tanpa Harakat. Karena Allah menjamin Al-Qur’an itu mudah, maka, Al-Qur’an (berharokat) atau tanpa harokat (Kitab Kuning) pasti mudah. Karenanya, dalam metode Tamyiz langkah awal berinteraksi dengan Kitab Kuning dilakukan melalui pembacaan Al-Qur’an yang dihilangkan harokatnya secara bertahap sehingga menjadi mudah.

Visi dan Misi Tamyiz

Visi Tamyiz (abaza, h. 6) adalah “Setiap muslim pintar tarjamah Al-Qur’an yang dibaca maupun yang didengarnya.

Adapun Misi Tamyiz adalah membentuk generasi muslim:

  • Sedari kecil pintar tarjamah Al-Qur’an dan mampu membaca Kitab Kuning
  • Bisa menuliskan Al-Qur’an dengan benar (Imla)
  • Bisa mengajarkan kembali Al-Qur’an layaknya Imam Syafi’i

 

Prinsip Umum dan Khas Metode Tamyiz

Yang dimaksud prinsip umum di sini adalah bahwasanya Cara dan metode mengajar lebih penting dan lebih urgen dibanding materi pembelajaran

الطَّرِيْقَةُ أَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ

Materi (maddah) yang diajarkan dalam Metode TAMYIZ semuanya merupakan formulasi teori-teori Nahwu Sharaf yang tersebar di berbagai Kitab-kitab Nahwu-Sharf yang banyak ditemui dan dipelajari dipesantren-pesantren dan lembaga-lembaga khusus yang mempelajari kajian-kajian bahasa arab. Yang paling penting dalam metode TAMYIZ  adalah cara mengajarkannya (thoriqoh) yang harus bisa dipelajari oleh anak kecil. Karena begitu mudah Thoriqohnya: “ANAK KECIL saja bisa yang pernah kecil pasti bisa”

Sementara yang dimaksud prinsip Khas Metode Tamyiz adalah prinsip interaksi pembelajaran komprehensif yang mencakup Prinsip khas pengajaran, belajar, dan evaluasi yang khas pada Metode Tamyiz yang membedakannya dari-metode-metode pembelajran yang pernah ada.

  1. Prinsip Cara Mengajar TAMYIZ: Mengajar dengan Bahasa Hati (Neuro Linguistic)
  2. Prinsip Cara Belajar TAMYIZ:
  1. LADUNI (ilate kudu muni); santri belajar dengan teknik menngeraskan suara (suara lantang) sebagai salah satu upaya untuk mnyeimbangkan fungsi otak kanan dan otrak kiri, ditambah dengan pengulangan yang integrative sebagai upaya mengoptimalkan fungsi otak bawah sadar (shudur) sehingga hasil belajar lebih optimal.
  2. SENTOT (Santri TOT); terinspirasi dari hadits Nabi, “Sebaik-baik Kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (H.R. Bukhari). Dalam Metode Tamyiz santri tidak sekedar diposisikan sebagai pembelajar namun, target akhirnya santri tidak sekedar memahami tapi juga bisa mnegajrkanjnya kembali layaknya ustadz dan kyai mengajar santri-santrinya.
  1. Cara evaluasi belajar mengajar:
  1. MUDAH, Proses pembelajrannya harus dirasakan mudah oleh santri
  2. KESAN, Semua diajak untuk mnegatakan” Kalau hanya begitu caranya, Saya juga bisa mengajarkan TAMYIZ

Syarat Belajar TAMYIZ

  1. Pernah Kecil;
  2. Bisa membaca Al-Qur’an

 

Kategori Artikel: