Do'a Nabi Daud as.

Berdoa di dalam agama Islam sangat dianjurkan, bahkan di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa doa merupakan senjata orang beriman. Di dalam al Quran Allah Swt berfirman:

 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. QS Al Baqarah 2:186

Berdoa yang baik adalah berdoa dengan doa yang ma’tsur atau doa yang pernah diucapkan oleh para nabi sebagai pembawa risalah. Di antara dua puluh lima nabi yang berpredikat sebagai nabi dan rasul adalah nabi Daud AS. Imam Abu Laits di dalam karyanya Tanbih al Ghafilin menuliskan doa yang pernah dikumandangkan oleh Nabi Daud AS, yaitu kebiasaan beliau yang senantiasa meminta empat hal dan memohon pertolongan dari empat hal. Empat hal yang diminta oleh nabi Daud AS di dalam doanya adalah:

Pertama. Ya Allah aku meminta kepadaMu lisan yang berdzikir.

Nabi Daud AS senantiasa meminta kepada Allah Swt agar memiliki lisan yang senantiasa berdzikir. Imam Nawawi memiliki karya al Adzkar yang berarti dzikir-dzikir dan ia menyatakan bahwa banyak sekali sebenarnya dzikir yang bisa dibaca oleh setiap orang muslim dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Kedua. Ya Allah aku meminta kepadaMu memiliki hati yang bersyukur.

Permintaan kedua yang senantiasa dikumandangkan di dalam doa nabi Daud adalah memiliki hati yang bersyukur. Nabi Daud AS sadar bahwa sangat banyak nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt kepadanya. Oleh karena itu agar ia tidak dijuluki sebagai orang yang mengkufuri nikmat, maka ia senantiasa memohon agar memiliki hati yang senantiasa bersyukur. Oleh karena itu rasulullah Saw menyatakan bahwa agar seseorang dicatat menjadi orang yang bersyukur, maka di dalam urusan duniawi, sebaiknya ia melihat orang yang “posisinya” lebih rendah darinya.

Sekarang ini banyak orang yang kurang bersyukur karena di dalam urusan dunia yang dilihatnya hanya orang-orang yang kedudukannya “lebih” darinya. Di sini sudah dapat dipastikan ia melupakan nikmat yang selama ini ia peroleh. Oleh karena itu Islam menyiapkan “ritual khusus”, yaitu sujud syukur dalam rangka mensyukuri nikmat Allah Swt tersebut.

Ketiga. Ya Allah aku memohon kepadaMu memiliki tubuh yang sabar.

Beban taklif (baca:tuntutan ibadah) yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia memang berat. Untuk menjalankan taklif yang dibebankan oleh Allah Swt membutuhkan kesabaran ekstra. Oleh karena itu  berlaku sabar bukan hanya saat seseorang tertimpa musibah saja, melainkan di saat melaksanakan ibadah seseorang juga harus bersabar.

Bangun di tengah malam untuk melaksanakan shalat malam  membutuhkan kesabaran ekstra. Banyak dari kita “mengabaikan” shalat malam karena tubuhnya kurang sabar untuk bersentuhan dengan udara malam dan air yang cukup dingin. Semua itu sesunggguhnya dapat ditepis apabila seseorang memiliki fisik yang sabar dengan asumsi bahwa panasnya api neraka saat menyentuh tubuh lebih dahsyat dari hanya sekedar dinginnya “air” di malam hari.

Keempat. Ya Allah aku memohon kepadaMu memiliki isteri yang membantu urusan di dunia dan akhirat.

Isteri merupakan teman hidup. Isteri dapat menjadi teman, sahabat bahkan orang yang melayani kebutuhan suami. Isteri yang demikian akan menjadi surga bagi suaminya. Hanya saja di sisi lain banyak isteri yang justru menjerumuskan suaminya apabila sang isteri tidak membantu suaminya di dalam urusan dunia dan akhirat dan secara otomatis ia akan menjadi neraka bagi suaminya.

Banyak isteri yang menghantarkan suaminya ke dalam penjara karena sang isteri merasa belum dipenuhi kebutuhan hidupnya lalu memaksa suaminya melakukan korupsi dan pada akhirnya masuk ke dalam penjara. Isteri yang baik adalah isteri yang dapat membantu suaminya di dalam masalah dunia dengan tidak menuntut hal yang macam-macam di luar kemampuan suaminya. Sementara untuk urusan akhirat, isteri yang baik adalah isteri yang taat pada agamanya dan senantiasa mendoakan suaminya di mana saja berada.

Di dalam berdoa, nabi Daud AS juga senantiasa memohon perlindungan dari empat hal:

Pertama. Ya Allah aku memohon perlindungan kepadaMu dari memiliki anak yang prilakunya seperti majikan.

Salah satu kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah menghormatinya. Oleh karena itu apabila terdapat seorang anak memiliki tingkah laku seperti seorang majikan yang kerap memerintah orang tuanya, maka itu sudah termasuk tingkah laku yang durhaka. Islam melarang seorang anak memiliki tingkah laku seperti itu karena mengingat jasa orang tua yang demikian besar terhadap anaknya.

Di antara tanda hari kiamat-sebagaimana yang dikemukakan di dalam hadits- adalah ketika seorang budak melahirkan majikannya. Sebagian para ulama hadits menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan redaksi tersebut, yaitu ketika orang tua melahirkan anaknya dan prilaku anaknya seperti seorang majikan.

Kedua. Ya Allah aku memohon perlindungan kepadaMu dari memiliki seorang isteri yang membuat diriku memiliki uban sebelum waktunya.

Perlindungan kedua yang diminta nabi Daud AS kepada Allah Swt merupakan ungkapan yang memiliki makna bahwa isteri yang baik adalah isteri yang tidak membuat “pusing” suaminya sehingga menjadikan kepala suami ditumbuhi “uban” yang lebat sebelum waktunya. Sekarang ini para suami banyak yang memiliki uban lebat sebelum waktunya dan salah satu sebabnya adalah “stress” sebagai akibat dari tuntutan kehidupan yang tinggi termasuk tuntutan dari isterinya.

Islam memang mewajibkan seorang suami untuk memberikan nafkah kepada isterinya. Hanya saja nafkah yang wajib diberikan itu dikembalikan kepada kemampuan suami. Oleh karena itu tidak ada “budget” tertentu yang mengharuskan suami memenuhinya. Di sini seorang isteri harus mengerti kondisi suaminya sehingga ia tidak termasuk seseorang yang berbuat durhaka terhadap suami.

Ketiga. Ya Allah aku memohon perlindungan kepadaMu dari memiliki harta yang menyulitkan diriku.

Nabi Daud sadar bahwa setiap manusia menginginkan harta duniawi. Hanya saja harta duniawi ada ada yang membawa nikmat dan ada yang membawa laknat. Oleh karena itu ia memohon perlindungan kepada Allah dari memiliki harta yang membawa laknat.

Islam tidak melarang seorang muslim berlomba-lomba mengumpulkan harta dunia apabila harta yang dikumpulkan tersebut merupakan harta yang diperoleh dari jalan yang halal lalu ia mensyukurinya. Sekarang ini banyak orang mengumpulkan harta tetapi ia tidak memandang apakah harta yang diperolehnya itu haram atau halal. Orang yang seperti ini hanya akan mengalami penyesalan di kemudian hari.

Keempat. Ya Allah aku memohon perlindungan kepadaMu dari tetangga yang apabila melihat kebaikan dariku, maka ia menyembunyikannya dan apabila ia melihat keburukanku, maka ia menyebarluaskannya.

Tetangga adalah saudara yang terdekat. Oleh karena itu di antara kebahagiaan hidup di dunia ini adalah memiliki tetangga yang baik. Rasulullah Saw menganjurkan apabila seseorang memasak suatu hidangan, maka hendaknya ia memperbanyak “kuahnya”. Maksudnya dengan memperbanyak kuah berarti tetangganya juga turut menikmati kuah tersebut.

Mudah-mudahan dalam berdoa kita dapat “menyelipkan” doa ini sehingga kehidupan kita yang sementara di dunia ini menjadi bermanfaat. Amien Ya Rabbal ‘alamien

Kategori Artikel: