Ciri-ciri Fi'il

Jika isim memiliki tanda, demikian juga halnya dengan FI’IL. Ciri pertama dari FI’IL adalah QOD (قَدْ). Ia bisa mempunyai arti sungguh, kadang-kadang, atau hampir, namun kapan atau bagaimana penggunaannya belum akan dibahas saat ini. Yang jelas jika ada suatu kata didahului QOD maka kata tersebut adalah FI’IL.

Contoh: قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ

Disini kita perhatikan kata عَلِمَ. Kata ‘alima didahului dengan Qod, maka kita tidak akan ragu bahwa ‘alima merupakan FI’IL. Sesungguhnya (qod) setiap suku (kullu unasin) telah mengetahui (‘alima) tempat minum mereka masing-masing (masyraabahum). Di sini ‘alima merupakan FI’IL karena didahului Qod.

Ciri kedua adalah SIIN ((اَلسِِّيْنُ (سَـ). Apabila ada suatu kata didahului oleh kata SA (huruf siin س), maka bisa kita tebak kalimat tersebut FI’IL. SA mempunyai arti ‘akan’. Dari artinya saja kita sudah tahu bahwa akan berhubungan dengan waktu, maka ia termasuk kelompok FI’IL.

Misalnya firman Allah: سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Kita perhatikan kata يَجْعَلُ yang didahului dengan huruf س, maka yaj’alu merupakan FI’IL. Allah akan menjadikan (sayaj’alullahu) sesudah kesulitan (ba’da ‘usrin) kemudahan (yusra)

Ciri yang ketiga adalah SAUFA (سَوْفَ) yang mempunyai arti ‘kelak’. Dari artinya saja kita sudah mengetahui bahwa kata yang didahului saufa termasuk fi’il, seperti contoh ayat: كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ “Janganlah demikian (kalla), kelak (saufa) kalian akan mengetahui (ta’lamuun).” Kita perhatikan setelah saufa ada kata ta’lamuuna, maka ta’lamuuna merupakan FI’IL.

Untuk ciri selanjutnya adalah تَاءُ التَأْنِيْث ِالسَاكِنَةُ ta’ ta’nits as-sakinah, maksudnya adalah TA yang disukun yang digunakan untuk jenis perempuan (berhubungan dengan perempuan/muannats).

Contoh: قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَـنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا. Kita ingat bahwa ta’ ta’nits assakinah adalah ta yang disukun yang digunakan untuk jenis perempuan. TA ini diletakkan atau digandengkan di akhir dari suatu kata. Dari contoh di atas terlihat bahwa قَال digandengkan dengan ت yang disukun menjadi قَالَتْ /qoolat, dan kata ini digunakan untuk perempuan karena dalam firman ini Allah sedang mengkisahkan Maryam yang sedang berkata kepada malaikat Jibril: Maryam berkata (qoolat) sesungguhnya aku (innii) aku berlindung (a’udzu) kepada Dzat Yang Maha Pengasih (birrahman) darimu (minka) jika (in) kunta (keberadaan kamu) termasuk orang yang bertaqwa (taqiyya). Perhatikan, qoola + ta’ yang disukun disini menunjukkan bahwa dia termasuk FI’IL.

Demikian, apabila dalam suatu kata ditemukan salah satu dari ciri-ciri tersebut di atas, maka sudah bisa diketahui bahwa dia merupakan FIIL.

Catatan Perbedaan Isim dan Fi’il:

  1. Huruf tidak ada ciri khusus. Untuk mengetahuinya harus dihafal.
  2. Suatu kata sudah cukup dikatakan sebagai isim atau fi’il apabila telah menerima salah satu dari tanda di atas.
  3. Pada ciri isim, antara tanda “tanwin” dan “alif lam” tidak akan pernah bertemu.

Untuk fi’il, seringkali ciri-cirinya tidak disebutkan. Cara praktis untuk mengetahuinya adalah dengan menghafal ciri isim dan menghafal macam-macam huruf. Apabila tidak termasuk isim maupun huruf berarti dia termasuk fi’il. (ref:badaronline.com)

Kategori Artikel: