Bekerja Yang Islami, Seperti Apa?

Bekerja Islami

Islam adalah agama yang menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam Islam tidak boleh seseorang mengedepankan kehidupan akhirat saja, sementara kehidupan dunianya diabaikan dan demikian pula sebaliknya.Di dalam hal ini Allah Swt berfirman:

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَٮٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ‌ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَأَحۡسِن ڪَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَ‌ۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”

Agar manusia dapat survive hidup di dunia, maka Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja. Hanya saja dalam bekerja manusia banyak yang tidak mengetahui dan kemudian mempertanyakan mengapa pekerjaan yang ia alami tidak menimbulkan keberkahan bagi kehidupannya.

Analisa di atas mengingatkan saya pada salah seorang sahabat saya semasa SMP-sebut saja namaya Hendi (bukan nama sebenarnya) yang  bekerja di salah satu pom bensin di Jakarta. Suatu hari ia datang menemui saya dan mengeluhkan keadaan keluarganya yang terus-menerus sakit secara bergiliran. Secara spontan saya bertanya kepadanya:”Ente kerjanya dah bener-bener halal atau belum?”, tanya saya. “Yah!”, itulah yang saya mao bicarakan sama ente. Jadi singkat cerita selama ini pekerjaan yang ia lakukan sebenarnya tidak sepenuhnya halal, karena ia dan kawan-kawannya rupanya sering mengurangi takaran bensin terhadap para konsumennya.

Saya akhirnya menyarankan kepadanya untuk mencari pekerjaan lainnya yang lebih halal dan ternyata benar sebulan kemudian dia mendapatkan pekerjaan baru sebagai pemasang jok mobil dan setelah itu keberkahan berpihak kepadanya dan keluarganyapun tidak terus-menerus didera penyakit.

Bekerja memang dianjurkan asalkan pekerjaan yang dilakukan berasal dari tangannya sendiri  dan Islami.Rasulullah Saw pernah ditanya oleh para sahabat: Pekerjaan apakah yang paling baik? Rasulullah Saw menjawab: Pekerjaan seseorang dengan tangannya.

Islam tidak membatasi seseorang terpaku pada satu pekerjaan saja. seseorang sesungguhnya boleh saja masuk pada pekerjaan yang bersifat jasa atau non jasa dan bisa saja seseorang masuk pada pekerjaan yang berbau politik, ekonomi, budaya, sosial dan lain sebagainya. Hanya saja pekerjaan yang dilakukan harus pekerjaan yang halal.  

Abu Laits pernah menyatakan bahwa siapapun yang menginginkan pekerjaannya menghasilkan ending yang baik, maka ia harus memperhatikan lima hal:

Pertama, tidak mengakhirkan kewajiban-kewajiban agama atau menguranginya karena pekerjaan yang ada.

Sering kali dalam bekerja, apalagi ketika seseorang mendapat proyek tertentu, ia mengakhirkan ibadahnya, bahkan sampai meninggalkannya. Di sini seseorang berasumsi bahwa mumpung ada proyek, mumpung sedang banyak pekerjaan, maka tidak mengapa meninggalkan kewajiban kepada Allah.Di sini mereka tidak sadar bahwa keberkahan pekerjaan justru karena mereka tetap konsisten menjalankan kewajiban agama.

Selain itu terkadang seseorang yang sudah memiliki niat untuk mensedekahkan sebagian hartanya, urung melakukannya karena setelah seseorang menerima gaji ternyata gajinya semuanya diperuntukkan untuk kebutuhan dunianya dan sedekah yang sudah diniatkan tadi dibatalkan. Padahal di sinilah seseorang sedang diuji antara memenuhi kebutuhan dunianya di satu sisi dan memenuhi kebutuhan akhiratnya di sisi yang lain dan semestinya dilakukan secara seimbang  

Kedua, tidak menyakiti orang lain karena pekerjaan.

Dalam bekerja terkadang terdapat persaingan yang tidak sehat, bahkan masih ada yang menggunakan cara-cara tidak wajar dengan pergi kepada paranormal agar saingan dalam pekerjaan tersebut tidak betah untuk kemudian berhenti dan tidak bekerja kembali.

Seorang muslim dalam bekerja harus yakin bahwa rezeki itu tidak akan “tertukar”. Allah Swt tidak pernah salah “kamar” dalam memberikan rezekiNya.Oleh karena itu kita tidak perlu iri terhadap rezeki orang lain, sebab barangkali itu adalah rezekinya dan rezeki kita ada di tempat yang lain.

Ketiga, dalam bekerja hendaknya memiliki niat yang baik untuk menghidupi diri dan keluarga serta tidak bertujuan untuk semata-mata mengumpulkan harta.

Harta yang berlimpah umumnya sering meninabobokan orang.Oleh karena itu al Quran di dalam surat al Takatsur mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati agar tidak dipermainkan oleh harta yang berlimpah itu. Allah Swt berfirman dalam tersebut:

 “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui..Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim.Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.

Keempat, hendaklah tidak “ngoyo” dalam bekerja.

“Ngoyo” yang dimaksud di sini adalah bekerja secara over sehingga seseorang sering mengabaikan pekerjaan inti dirinya demi pekerjaan yang digeluti.

Hal di atas sering terjadi pada wanita karir. Seorang wanita di dalam Islam posisinya sangat terhormat. Islam menginginkan wanita sesungguhnya hanya duduk manis dan melayani suami sebaik-baiknya. Meskipun demikian Islam tidak melarang seorang wanita untuk bekerja selama pekerjaan tersebut sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang wanita. Hanya saja yang terjadi terkadang seorang wanita “kebablasan” sehingga melupakan posisi aslinya sebagai orang yang paling bertanggungjawab terhadap urusan rumah tangga. Akibatnya sudah dapat ditebak suatu keluarga akan porak-poranda karena tidak ada lagi yang bertanggung jawab dalam masalah rumah tangga.

Sering seorang wanita merasa berada di bawah kaum laki-laki karena secara sosial ia merasa tidak produktif lalu memaksakan diri untuk bekerja karena ingin melampiaskan ambisinya tersebut. Padahal dari sisi lain pekerjaan yang dilakukan seorang wanita cukup banyak dan sangat mulia. Seandainya dengan sabar dan baik ia mengurus anak-anaknya lalu anak-anaknya menjadi anak yang shaleh, maka niscaya semua itu menghantarkannya pada surga.

Kelima, hendaklah seseorang tidak menganggap bahwa rezeki yang didapatkan bukan semata-mata dari pekerjaan tersebut, melainkan ia berasal dari Allah Swt sementara pekerjaan tersebut hanya sebagai sebab.

Sering saya melihat bahwa kalau dahulu masyarakat jahiliyah menuhankan Latta dan Uzza sebagai Tuhan, sementara masyarakat sekarang yang dituhankan bukan lagi berhala melainkan pekerjaan, sehingga sering kali kita mempertahankan pekerjaan walaupun pekerjaan tersebut bertentangan dengan ajaran agama atau terkadang mengabaikan kewajiban agama. Seseorang dengan santai tetap melanggengkan pekerjaan tersebut.

Apabila kita melakukan perbuatan di atas tentu saja apa yang pernah dilakukan oleh masyarakat jahiliyah kini terulang kembali dalam sosok yang berbeda naudzubillah.

Kategori Artikel: