Al Tsauroh- Belajar Bahasa Arab Super Cepat

Mengapa Al-Tsauroh?

Di antara end products dari krisis epistemologis yang menimpa Indonesia adalah krisis-krisis fundamental berikut ini: krisis spiritual, krisis keulamaan, krisis intelektual, krisis kepemimpinan, krisis akhlak, dan krisis keumatan. Krisis ekonomi, politik, budaya dan kebangsaan semuanya merupakan krisis-krisis berikutnya.

Dari perspektif tertentu, sebagai negara penduduk terbesar kelima di dunia dengan mayoritas penduduk Muslim kita pasti, jika beriman, akan sekaligus merasa malu dan pilu. Bagaimana bisa sebuah negara dengan mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam dan dengan SDA yang sangat kaya raya seperti ini kemudian menjadi negara gagal, menurut Fund for Peace.

Indonesia hari ini adalah negara dengan tingkat kemiskinan, pengangguran dan kejahatan korupsi yang sangat tinggi; negara dengan competitiveness dan kualitas pendidikan dasar yang sangat rendah; negara besar berpenduduk mayoritas Islam yang ekonominya semakin dijajah asing alias tidak dinikmati oleh rakyatnya.

Untuk berubah, bangkit, maju, sebagai umat dan bangsa, apalagi untuk memimpin dan ikut mengubah keadaan dunia, bangsa ini memerlukan generasi baru yang berbeda atau istimewa: generasi ulama-intelektual-entrepreneur atau generasi intelektual-ulama-entrepreneur. Dari generasi baru inilah mudah-mudahan Allah SWT menyayangi umat dan bangsa ini dengan menjadikan mereka para pemimpin masa depan bangsa; para pemimpin yang akan hanya memiliki satu hibi saja: mensejahterakan umat dan bangsanya lahir dan batin, agar negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabb ghafur(un).

Melahirkan generasai baru yang demikian, meski hanya sedikit, tentu amat sangat tidak mudah dan merupakan tantangan yang sangat berat terlebih ketika kualitas pendidikan negeri ini adalah seperti sekarang ini dan terlebih lagi ketika proses dan kurikulum pendidikan nasionalanya cenderung sangat westernized secara epistemologis dan dalam situasi sosial-ekonomi-politik dan budaya seperti sekarang ini: materialistik-hedonistik-pragmatik dan sekular-despiritual.

Realitas negara dan mayoritas umat dan bangsanya yang seperti di atas, yang sekaligus sangat memalukan dan memilukan seperti itu. Tentu tidak boleh menghentikan kelompok sadar atau creative minority untuk berhenti membangun mempi, berpikir positif, bertindak nyata dan cerdas, bekerja keras, sabar dan tabah, dan beriman dan berpikir dengan spirit Pandangan Dunia Tauhid. Apalagi untuk berputus asa. “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” Begitu firman Allah di dalam Al-Quran.

Sebagai sebuah tesis, jika bukan sebuah keyakinan, bahwa proses kehancuran dan penghancuran tersebut di atas terjadi dikarenakan absennya kepemimpinan spritual dan relijius dalam pengertian tertentu nasionalistik. Ketika ulama = bukan intelektual = bukan pemimpin dan ketika intelektual = bukan ulama = pemimpin dalam arti yang sesungguhnya maka negara dan bangsa ini menjadi tanpa teladan sejati, tanpa koreksi substantif dan tanpa kharisma nasional. Di tengah kekosongan seperti itulah akan lahir generasi penguasa bukan ulama dan bukan intelektual dan bahkan bukan profesional, apalagi negarawan.

Untuk menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, Indonesia tidak harus menjadi negara ulama, juga tidak perlu menjadi negera intelektual. Apa lagi ketika, dari perspektif pradigmatik tertentu, Indonesia juga adalah juga negeri miskin ulama-intelektual-entreprneur-pemimpin-negarawan. Kemiskinan inilah di antara yang mau dijawab oleh Al-Tsauroh.

Bagi penemunya, Al-Tsauroh bukan hanya sekedar Metode Pelatihan SuperCepat Kompetensi Bahsa Arab. Al-Tsauroh juga adalah kesadaran spiritual dan epistemologis, keyakinan visioner, dan paradigma aksi sekaligus keumatan dan kebangsaan sebagai jawaban revolusioner untuk memecahkan problematika dan dilema keumatan dan kebangsaan Indonesia abad 21, yang berbasiskan pendekatan multi kecerdasan, Teknologi Prestasi, Rekayasa Motivasi Prestasi, entreprenenurship, revolusi metodologis, imajinasi penciptaan kekayaan baru, paradigma pengelolaan profesional-entrepreneurial dan kepeimipinan kolektivistif visioner yang bersifat relijius dan spiritual bagi kebaikan umat dan bangsa. Al-Tsauroh adalah persembahan hidup penemunya bagi kebaikan umat Islam dan bangsa Indonesia yang sangat dicintainya.

Al-Tsauroh diharapkan dapat menjawab kebutuhan mendesak dan visioner umat Islam atas krisis keulamaan dan lamanya penguasaan keterampilan bahasa Arab dengan metode lama ala pesantren, sekolah, Perguruan Tinggi (Indonesia dan Timur Tengah).

Tujuan Substantif Jangka Pendek Al-Tsauroh

Untuk menjawab krisis keulamaan, Al-Tsauroh bermaksud melahirkan kader para Ulama Masa Depan Umat dan Bangsa yang bukan saja menguasai bahasa Arab, menguasai Ilmu-ilmu Islam dan berwawasan Islam yang luas, terbuka dan penuh rasa persatuan serta memahami dan responsif terhadap tantangan abad 21, melainkan juga para kader ulama yang memiliki wawasan kemoderenan yang luas, kualitas kesadaran epistemologis Islam, spiritualitas keumatan dan kebangsaan yang teinggi, serta memahami paradigma prestasi dan suskes hidup berbasis spiritualitas Islam, imajinasi entrepreneurial penciptaan kekayaan baru, teknologi prestasi, aplikasi teknologi motivasi, dan multi-intelligences.

Al-Tsauroh Sebagai Metode Pelatihan Bahasa Arab

Sebagai Metode Pelatihan Bahasa Arab, Al-Tsauroh adalah metode pelatihan komptensi berbahasa Arab revolusioner yang praktis dan produktif. Maksimal, hanya dalam selama 15 hari @ 4 jam, Anda akan dibuat mampu menguasai ‘ilm al-nahw wa al-sharf; kaya kosakata; dan mampu membaca “Teks/Kitab Arab Gundul” (teks/kitab tanpa syakal) by design dan pilihan dengan benar.

Metode Al-Tsauroh juga melampaui pelatihan kompetensi berbahasa Arab. Dengan mengikuti pelatihan ini, setiap peserta pelatihan kompetensi berbahasa Arab Metode Al-Tsauroh juga akan terbangun motivasi prestasi dan sukses hidupnya, imajinasi dan otak penciptaan kekayaan barunya, kesadaran dan wawasan entrepreneurialnya, kecerdasan relijius dan spiritualnya.

Kategori Artikel: